Benedict Bridgerton: Anomali Male Lead yang Anti-Denial (Beda dari Kakaknya!)

Benedict Bridgerton: Anomali Male Lead yang Anti-Denial (Beda dari Kakaknya!)

“It is dull to swim in the same waters day after day, even if they are warm and… pleasant. Will you not wade out deeper with me?”

Dearest Gentle Grameds,

siapa yang masih belum move on dari Bridgerton Season 4 Part 1 ini?

Karena penulis ini sama sekali belum. Dan siap bertransportasi kembali ke romansa berlatar sejarah yang kembali dengan megah sekaligus penuh kejutan ✨

Musim ini, seri Bridgerton fokus ke cerita anak kedua keluarga populer di high society London yaitu Benedict Bridgerton. Sebagai anak kedua, Benedict hidup dengan santai. Ia juga adalah seniman yang sedang mengalami quarter-life crisis. Di pesta topeng yang diselenggarakan oleh Dowager Viscountess Bridgerton atau Ibu Benedict, ia langsung jatuh cinta dengan pesona lady dengan balutan silver. Kemudian, hidup Benedict menjadi jungkir balik ketika ia terobsesi menemukan kembali sosok Lady in Silver yang menghilang tanpa jejak.

Mari kita jujur, Bridgerton adalah gudang denial untuk semua karakter male leads-nya. Ya, mereka tampan, mapan, emosional (katanya), tapi kenyataanya mereka membutuhkan satu musim hanya untuk mengakui perasaannya sendiri.

Di tengah keramaian itu, Benedict adalah sebuah anomali. Walau terkenal playboy tulen, tidak ada kata “denial” dalam kamusnya ketika ia tahu pasti apa yang ingin ia kejar. Dan di akhir artikel ini, kalian akan semakin yakin kalau Benedict Bridgerton adalah male lead terbaik dari semuanya.


Kenalan Yuk dengan Sang Pangeran dan Sang Pelayan!

Kisah musim kali ini bisa dibilang seperti kisah Cinderella. Benedict sangat menikmati kehidupannya yang bebas tanpa kewajiban. Ketika ia harus menghadiri pesta dansa yang diselenggarakan Ibunya dan bertemu dengan Lady in Silver. Ketertarikan bersemi di antara keduanya. Lalu pesta dansa selesai dan Lady in Silver bergegas untuk kembali sebelum Benedict mengetahui namanya. Kemudian Benedict benar-benar di titik kelimpungan karena tidak bisa menemukan lady itu di penjuru London.

Enter the female lead: Sophie Baek! Sophie adalah anak haram dari keluarga aristrokat yang terpandang, Earl of Penwood. Setelah ayahnya meninggal, Ibu tirinya menyuruhnya untuk menjadi pelayan untuk menjaga status “rawan”-nya. Berbeda dengan Benedict, Sophie hidup dengan kesadaran untuk tahu akan tempatnya. Suatu ketika, Sophie mengikuti insting impulsif-nya untuk mendatangi suatu pesta dansa agar bisa mengalami pengalaman sekali seumur hidupnya. Terpukau dengan pengalaman magis pesta dansa dan seorang gentleman tertentu, Sophie berusaha untuk menyingkirkan perasaannya dan menyimpan kenangannya di kotak Pandora-nya.


Baca juga: Sudah Siap Melihat Perubahan Besar di Planet Arrakis? Temukan Lanjutan Kisahnya di Kaisar Dewa Dune!


Playboy yang Transparan

Satu hal yang pasti: Benedict living his life at the fullest. Sebut saja seni, pesta, kebebasan, relasi tanpa label, semua itu ia jalani (hampir) tanpa topeng. Dengan jelas, ia tidak memasarkan dirinya untuk berkomitmen dan mundur diam-diam ketika perasaan mulai menuntut tanggung jawab. Ia tidak memanfaatkan kebingungan sebagai alat tarik ulur.

Di dunia romansa, baik fiksi maupun nyata, ini bukan hal kecil. Karena sering kali yang melelahkan bukanlah orang yang belum siap, tapi orang yang tidak mau mengakui bahwa ia siap. Ada alasan kenapa Benedict disebut ‘The Diamond of The Season’ dan ini baru permulaannya.


Masalah Utama Male Lead Bridgerton: Denial Yang Dipoles Romantis

Kalau kita tarik garis besar, banyak male leads Bridgerton yang terjangkit dengan penyakit yang sama: tertarik, menyangkal, menyakiti, menyesal, lalu mengejar. Denial mereka dianggap sebagai konflik yang “manusiawi”. Padahal, dampaknya selalu sama: perempuan harus menunggu di ruang abu-abu.

Ingat gimana Simon Basset mati-matian bilang nggak bisa menikah karena 'sumpah' masa lalunya? Atau Anthony Bridgerton yang saking denial-nya hampir menikahi perempuan yang salah demi menjaga gengsi? Mereka adalah definisi pria yang butuh waktu satu musim penuh hanya untuk berdamai dengan ego sendiri. Benedict? Ia melompati semua kerumitan itu dengan kejujuran yang menyegarkan.

Benedict memang tidak kebal dengan kebingungan, tapi ia tidak tinggal berlama-lama di dalamnya. Ketika perasaan mulai jelas, ia tidak memilih untuk tidak berpura-pura tahu. Ia mulai menentukan sikap.

Dan di semesta Bridgerton (atau di dunia nyata), kesadaran emosional ini adalah sikap yang terasa hampir revolusioner.


Tidak Hanya Benedict, Ini Daftar Male Leads Yang Peka Secara Emosional!

Nah Grameds, jangan khawatir. Karena Benedict bukanlah satu laki-laki yang emotionally available yang hadir dalam fiksi. Selanjutnya, penulis bakal spill karakter male leads yang bikin kamu makin deg-degan lagi. So, rest assured and here we go!

1. Mr. Darcy (Pride and Prejudice)-Jane Austen

benedictBeli di Sini!

Siapa lagi yang tak asing dengan romansa klasik ini? Kisah ini menceritakan Elizabeth Bennet, anak kedua dari lima bersaudara Bennet yang paling cerdas & bermulut pedas dan berusaha menavigasi hidupnya di dalam perkumpulan sosial ton yang ketat. Mr. Darcy adalah aristrokat kaya yang sedang berkunjung ke kota dimana Elizabeth tinggal. Keduanya bertemu di pesta dansa dan merasakan ketertarikan “hate at the first sight” Spoiler alert: Hanya Elizabeth yang beranggapan seperti itu.

Setiap kali Elizabeth ada masalah, Mr. Darcy diam-diam selalu membantunya, tak peduli bahwa Elizabeth telah menolak pinangannya. Walaupun terlihat seperti orang angkuh dan kaku, kita dapat belajar berulang kali bahwa tampilan luar terkadang tidak bisa menjadi acuan khusus dalam menilai sikap seseorang.

2. George Knightley (Emma)- Jane Austen

benedictBeli di Sini!


Masih berlatar romansa sejarah, fiksi klasik populer karangan Jane Austen ini juga menarik hati para pembaca. Pasalnya, Emma Woodhouse jugalah karakter cerdas seperti Elizabeth Bennet. Bedanya, jika Elizabeth lebih berani maka Emma lebih kalem. Emma terkenal menjadi mak comblang di kota tempat tinggalnya.

George Knightley atau sapaan akrabnya Mr. Knightley adalah tetangga slash teman masa kecil Emma. Biarpun terkadang Emma terlalu pongah dalam kemampuan mak comblangnya yang legendaris, Mr. Knightley masih peduli untuk membimbingnya ke arah yang benar. Ia juga merasakan perasaanya kepada Emma dengan sadar diri. Sosok dewasa dan kepekaan emosional yang dimiliki Mr. Knightley inilah merupakan karakter fiksi favorit bagi sebagian para pembaca.

3.Gilbert Blythe (Anne of Green Gables)- Lucy Maud Montgomery

benedictBeli di Sini!



Salah satu fiksi memiliki banyak adaptasi TV, Anne of Green Gables atau Anne Shirley sukses menangkap hati para penggemar di seluruh dunia. Anne Shirley adalah anak yatim piatu yang ceria dan memiliki banyak akal. Suatu ketika, ia akhirnya di adopsi tapi ternyata terjadi kesalahan! Di tempat tinggal barunya, Anne berpetualangan untuk mencari arti pertemanan dan arti hidup sesungguhnya.

Gilbert Blythe adalah salah satu teman/rival Anne dan juga karakter male leads yang usil dan ceria. Sikapnya yang seperti itu bahkan membuat Anne menjadi repulsif di pertemuan pertama mereka. Seiring bertambah dewasa, Gilbert terkenal lebih empatik dan protektif. Ia juga memberikan ruang untuk Anne untuk tumbuh. Bahkan, ia merelakan posisi mengajar yang ia dapat untuk diberikan kepada Anne supaya Anne lebih dekat dengan keluarga angkatnya. Sifat Gilbert yang “Aku disini, kamu bebas memilih.” sukses membuat para pembaca deg-degan setengah mati.


Pada akhirnya,

Benedict Bridgerton bukanlah pria yang paling ideal di seri Bridgerton. Tapi ia salah satu yang paling terbuka secara emosional demi sebuah kejelasan. Dan kejelasan ini bukan hanya dalam kasus Benedict. Psst, ada spoiler alerts lagi nih, Grameds! 👀

Masih dalam semangat HUT-56, Gramedia lagi ada promo diskon 56% untuk buku-buku piihan terbaik loh! Promo ini hanya berlaku dari tanggal 2 Februari hingga 17 Februari dan persediaan terbatas! Jadi tunggu apalagi, Grameds? Buruan cek promo HUT ke-56 Gramedia biar nggak kehabisan! 😆


Baca juga: Lady Whistledown: Penulis Gosip Setajam Silet di Dunia Bridgerton


Laura Saraswati

Creative Team

Enter your email below to join our newsletter