Cara Orang Jawa 'Naik Kelas' di Masa Lalu: Intip Kisah Sastrodarsono dalam Para Priyayi!
Kalau bicara soal sastra Indonesia modern, nama Umar Kayam merupakan satu dari sekian banyak sosok yang nggak boleh kamu lewatkan begitu saja, Grameds. ☝😉
Salah satu karya paling ikoniknya, Para Priyayi, muncul sebagai potret panjang tentang perubahan zaman, nilai hidup, dan identitas sosial masyarakat Jawa. 🧵📸
Novel ini berangkat dari persoalan yang sangat manusiawi, keinginan untuk memperbaiki nasib. Lewat kisah tokoh-tokohnya, pembaca diajak mengikuti perjalanan perlahan menaiki tangga status sosial melalui pendidikan dan pekerjaan.
Dunia priyayi tampil sebagai tujuan yang menjanjikan kehormatan, kestabilan, dan pengakuan, sekaligus sebagai ruang baru dengan aturan dan tuntutan yang tidak sederhana.
Lalu, bagaimana Umar Kayam menggambarkan kehidupan para priyayi dalam novelnya itu? Mari kita bahas bersama-sama dalam artikel ini! 🏇
Kisah Kenaikan Kelas dan Harga yang Harus Dibayar
Cerita bermula dari Sastrodarsono, anak petani yang hidup dalam kesederhanaan. Melalui jalur pendidikan, ia perlahan memasuki dunia priyayi sebagai pegawai negeri, sebuah posisi yang pada masanya menjadi simbol mobilitas sosial. Perjalanan ini tidak digambarkan sebagai kisah sukses instan. Ada proses panjang, kerja keras, serta penyesuaian diri yang terus-menerus dilakukan.
Dari Sastrodarsono, cerita kemudian bergerak mengikuti generasi berikutnya. Anak-anak dan cucunya menghadapi dunia yang berbeda, dengan tantangan dan peluang yang juga berubah. Di titik ini, Umar Kayam menunjukkan bahwa status sosial dapat diwariskan, tetapi nilainya selalu dinegosiasikan ulang oleh setiap generasi.
Melalui kisah-kisah ini, Para Priyayi memperlihatkan bahwa kenaikan kelas sosial membawa tuntutan baru. Cara berbicara, bersikap, hingga memandang orang lain ikut berubah, seiring dengan dunia yang beranjak maju. Menjadi priyayi berarti memasuki ruang sosial yang penuh ekspektasi, tempat pencapaian dan beban berjalan berdampingan.
Priyayi sebagai Identitas Sosial dan Budaya
"Priyayi yang baik itu, Le, harus sadar akan rasa rikuh. Alangkah akan mengerikan bila seorang priyayi itu tidak punya rasa rikuh..."
Dalam novel ini, status priyayi tidak semata digambarkan sebagai kelas sosial tinggi, melainkan sebagai identitas kultural yang dibentuk oleh nilai dan etika tertentu. Pendidikan, tata krama, dan kesadaran diri menjadi pondasi penting dalam kehidupan priyayi. Sikap rikuh, pengendalian diri, dan rasa hormat terhadap orang lain terus dijaga dalam berbagai situasi.
Tokoh-tokoh priyayi dalam Para Priyayi kerap dihadapkan pada tuntutan untuk tampil pantas dan berwibawa, baik di ruang publik maupun dalam kehidupan keluarga. Nilai-nilai tersebut seringkali berbenturan dengan keinginan pribadi, kebutuhan ekonomi, dan perubahan zaman yang bergerak pelan tapi pasti.
Lewat konflik-konflik yang tampil dalam kehidupan sebuah keluarga dari generasi ke generasi, Umar Kayam menunjukkan bahwa identitas priyayi tidak pernah benar-benar mapan. Ia bisa dipertanyakan, ditafsir ulang, bahkan mengalami pergeseran. Di titik inilah novel ini berbicara banyak tentang manusia yang hidup di tengah perubahan sosial, tanpa kehilangan akar budayanya.
Gaya Bertutur Umar Kayam yang Tenang dan Berjarak
Salah satu kekuatan utama Para Priyayi terletak pada cara Umar Kayam menyampaikan ceritanya. Bahasanya tenang, tertata, dan menjaga jarak emosional. Ia tidak menggiring pembaca untuk memihak tokoh tertentu, tetapi memberi ruang untuk menilai setiap pilihan dan konsekuensi yang muncul.
Alur cerita bergerak pelan mengikuti ritme kehidupan sehari-hari. Tidak ada konflik besar yang meledak-ledak, tetapi detail kecil justru menjadi penggerak cerita. Percakapan keluarga, keputusan pekerjaan, dan dinamika rumah tangga tampil sebagai bagian penting dari narasi.
Pendekatan ini membuat Para Priyayi terasa seperti dokumentasi sosial yang hidup. Pembaca seolah mengamati dari dekat perjalanan sebuah keluarga lintas generasi, sambil menyadari bahwa setiap keputusan selalu berdampak panjang, tidak hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi orang-orang di sekitarnya.
Baca juga: Tempat Paling Jujur Itu Bernama Lotus Taxi: Saat Perjalanan Malam Menjadi Ladang Pengakuan
Umar Kayam dan Jejaknya dalam Sastra Indonesia Modern

Umar Kayam dikenal sebagai sastrawan yang konsisten membicarakan hubungan antara manusia, budaya, dan perubahan sosial. Kontribusinya terasa penting karena membuka ruang pembacaan yang membumi. Sastra hadir sebagai cara memahami perubahan nilai, relasi antargenerasi, dan perjalanan masyarakat Indonesia dalam menghadapi zaman.
Melalui novel Para Priyayi, Umar Kayam memperkaya sastra Indonesia modern dengan tema mobilitas sosial dan pendidikan. Ia menunjukkan bahwa kisah kehidupan sehari-hari, dengan segala tarik-ulurnya, mampu menjadi medium refleksi sosial yang tajam dan relevan. Pendekatan ini juga terlihat konsisten dalam karya-karyanya yang lain.
Beberapa judul penting yang pernah ditulis Umar Kayam antara lain Seribu Kunang-kunang di Manhattan (1972), kumpulan cerpen yang mempertemukan pengalaman orang Indonesia dengan kehidupan modern di luar negeri. Ada pula Sri Sumarah dan Bawuk (1975) yang menyoroti kehidupan perempuan Jawa dalam pusaran nilai tradisi dan perubahan sosial.
Selain itu, Umar Kayam juga menulis Parta Krama (1997) yang kembali mengangkat persoalan relasi sosial dan kekuasaan dalam konteks budaya Jawa, serta Jalan Menikung (1999) yang kerap dibaca sebagai kelanjutan refleksi sosial dari Para Priyayi. Melalui karya-karya ini, Umar Kayam menegaskan posisinya sebagai penulis yang tekun merekam perubahan masyarakat Indonesia dengan bahasa yang tenang, jernih, dan penuh empati.
Seperti Para Priyayi
Beberapa karya di bawah ini juga perlu kamu telusuri untuk membuka jendela sastra Indonesia dengan lebih lebar lagi. Cek daftarnya di bawah ini ya, Grameds!
1. Anak Bajang Menggiring Angin – Sindhunata
Karya Sindhunata ini menghadirkan kembali kisah Ramayana lewat pendekatan yang puitis dan reflektif. Cerita bergerak mengikuti tokoh-tokoh legendaris yang bergulat dengan takdir, kekuasaan, dan pilihan hidup yang penuh risiko. Lewat alur yang kuat, pembaca diajak menyelami perjalanan batin yang sarat pergulatan moral sekaligus perlawanan terhadap keadaan yang terasa tak adil.
Gaya penceritaannya kaya simbol dan sarat lapisan makna, membuat pembacaan terasa dalam tanpa kehilangan daya tarik naratif. Kisah klasik yang diangkat terasa hidup dan relevan dengan realitas manusia masa kini. Buku ini cocok buat pembaca yang ingin menikmati sastra Indonesia dengan sentuhan filosofis sekaligus pengalaman membaca yang imajinatif.
2. Rampokan – Peter Van Dongen
Rampokan membawa pembaca ke Indonesia pada masa awal kemerdekaan ketika konflik identitas dan sejarah masih terasa tajam. Cerita berpusat pada Johan Knevel dan Erik Verhagen, dua pemuda Belanda yang kembali ke Hindia dengan harapan dan bayangan masa lalu. Perjalanan mereka berubah drastis saat tragedi terjadi, memaksa Johan menghadapi rasa bersalah dan mengambil keputusan yang mengubah arah hidupnya.
Kisah ini memadukan roman sejarah dengan drama psikologis tentang kehilangan, identitas, dan ilusi masa lalu. Visual dan narasi berjalan beriringan menggambarkan ketegangan sosial serta dampak perang terhadap manusia. Tradisi rampokan macan menjadi simbol kuat yang memperkaya lapisan cerita sekaligus menguatkan refleksi tentang kekuasaan dan ketakutan.
3. Ronggeng Dukuh Paruk – Ahmad Tohari
Novel ini mengikuti perjalanan Srintil yang dinobatkan sebagai ronggeng baru di Dukuh Paruk, sebuah pedukuhan kecil yang menjadikan ronggeng sebagai simbol kebanggaan dan identitas. Popularitas Srintil tumbuh cepat, membuatnya dipuja banyak orang dari berbagai lapisan masyarakat. Di balik gemerlapnya panggung, hidupnya dipenuhi tekanan sosial dan harapan orang-orang di sekitarnya.
Situasi berubah drastis saat gejolak politik 1965 menghancurkan kehidupan pedukuhan tersebut. Srintil dan warga lain harus menanggung dampak besar yang merenggut masa depan mereka. Pengalaman pahit membawa Srintil pada proses refleksi panjang tentang harga diri, cinta, dan harapan yang rapuh. Novel ini merangkum trilogi legendaris dengan kisah yang emosional dan menyentuh sisi kemanusiaan.
4. Merahnya Merah – Iwan Simatupang
Merahnya Merah dikenal sebagai roman eksperimental yang menawarkan pendekatan berbeda dalam sastra Indonesia. Setiap tokoh hadir dengan pikiran dan tindakan yang mencerminkan gagasan filosofis tentang keberadaan manusia. Narasinya bergerak bebas, mengajak pembaca menelusuri refleksi eksistensial melalui percakapan, peristiwa, dan pergulatan batin para karakter.
Karya ini sering dianggap sebagai tonggak penting karena keberaniannya mengolah bentuk dan isi secara tidak konvensional. Setiap kali dibaca ulang selalu membuka sudut pandang baru, seolah cerita terus berkembang mengikuti cara pembaca memaknainya. Cocok bagi penikmat sastra yang ingin merasakan eksperimen naratif sekaligus renungan filosofis yang kuat.
5. Mangir – Pramoedya Ananta Toer
Mangir mengambil latar Jawa pasca runtuhnya Majapahit ketika kekuasaan tercerai berai dan konflik terjadi di berbagai wilayah. Dalam situasi penuh ketegangan itu, muncul daerah perdikan yang berusaha bertahan dengan sistem kepemimpinan lokal. Kisah berfokus pada Ki Ageng Mangir Wanabaya, sosok muda yang gagah dan berani memimpin wilayahnya di tengah perebutan pengaruh antar kekuatan besar.
Cerita juga menampilkan dinamika politik Mataram serta tokoh-tokoh berpengaruh yang membentuk arah sejarah Jawa. Pram menyusun narasi dengan detail historis yang kuat, menghadirkan konflik kekuasaan, loyalitas, dan harga diri yang saling bertaut. Novel ini menawarkan gambaran dramatis tentang masa transisi yang keras sekaligus refleksi tentang kepemimpinan dan perjuangan mempertahankan kedaulatan.
Meski berlatar masa lalu,
tema yang diangkat Para Priyayi tetap terasa dekat dengan pembaca sekarang. Isu tentang pendidikan sebagai alat mobilitas sosial masih terus dibicarakan hingga hari ini. Tekanan untuk memenuhi ekspektasi keluarga dan lingkungan juga menjadi pengalaman yang banyak dialami generasi masa kini. 🐣🛩
Novel ini mengajak pembaca merenungkan arti keberhasilan dan posisi sosial. Apakah naiknya status selalu sejalan dengan kebahagiaan? Apakah nilai-nilai lama masih bisa bertahan di tengah perubahan zaman? Pertanyaan-pertanyaan ini muncul secara alami sepanjang cerita.
Dengan pendekatan yang tenang dan reflektif, Para Priyayi cocok dibaca oleh siapa pun yang ingin memahami sejarah sosial Indonesia melalui jendela sastra. 🗝🖼
Yup, kalau kamu sudah mantap untuk memilih Para Priyayi sebagai bacaan lanjutan, kamu bisa mendapatkan karya ini dengan lebih hemat dengan promo yang tersedia di gramedia.com. Kamu bisa memilih dua opsi menarik sesuai kebutuhan dan selera, yaitu Paket Wanagih dan Paket Lantip.
Dengan Paket Wanagih, kamu akan mendapatkan buku Para Priyayi edisi hard cover yang dilengkapi bookmark serta pulpen wayang. Paket ini bisa kamu miliki dengan harga Rp139.000, cocok buat kamu yang ingin koleksi dengan tampilan lebih eksklusif.
Sementara itu, Paket Lantip ditawarkan dengan harga Rp115.000. Dalam paket ini, kamu akan mendapatkan buku Para Priyayi edisi soft cover, lengkap dengan bookmark dan Kalender 2026 yang siap menemani hari-harimu sepanjang tahun.
Periode promo ini hanya berlangsung mulai 7 hingga 22 Februari 2026, jadi pastikan kamu tidak melewatkannya. Selain melalui gramedia.com, promo ini juga berlaku di sejumlah toko Gramedia offline, seperti Gramedia Jakarta Matraman, Gramedia Margonda Depok, Gramedia Yogyakarta Sudirman, Gramedia Bogor Pajajaran, dan Gramedia Bandung Merdeka.
Baca juga: Aurélie Moeremans Akhirnya Bersuara: Mengapa 'Broken Strings' Bukan Sekadar Cerita Patah Hati Biasa?
✨ Oh ya, jangan lupa juga buat dapetin penawaran spesial dari gramedia.com! Cek promonya di bawah ini agar belanja kamu jadi lebih hemat! ⤵️
Telusuri Kisahnya Di Sini!
Telusuri Kisahnya Di Sini!
Telusuri Kisahnya Di Sini!
Telusuri Kisahnya Di Sini!
Telusuri Kisahnya Di Sini!
Telusuri Kisahnya Di Sini!
Tentukan Pilihanmu di Sini!
Temukan Semua Promo Spesial di Sini!