Backrooms: Film Horor Psikologis Baru A24 yang Mengubah Mimpi Buruk Internet Menjadi Teror Nyata


Grameds, lagi-lagi A24 menemukan cara baru untuk membuat penonton merasa tidak nyaman.

Setelah menghadirkan berbagai film yang gemar bermain di wilayah abu-abu antara realitas dan kegelisahan, kali ini studio tersebut membawa salah satu fenomena legenda internet paling mengganggu ke layar lebar: Backrooms.

Bukan rumah berhantu, bukan pula monster yang tersembunyi di balik kegelapan. Hanya lorong-lorong kuning kosong yang seolah tidak pernah berakhir, lampu neon yang terus berdengung, serta perasaan aneh bahwa kamu sedang berada di tempat yang seharusnya tidak ada.

Kini, mimpi buruk tersebut akhirnya mendapatkan adaptasi layar lebarnya sendiri.

Dibintangi oleh Chiwetel Ejiofor dan Renate Reinsve, labiran kuning kosong itu mungkin jauh lebih berbahaya daripada yang terlihat.

Karena sekali melangkah masuk, tidak ada yang benar-benar tahu apakah apa jalan keluarnya masih benar-benar ada 👁️🟨


Ketika Sebuah Pintu Membuka Jalan ke Tempat yang Seharusnya Tidak Ada

Source: Variety

Setelah perceraian membuat hidupnya berantakan, Clark (Chiwetel Ejiofor) mencoba bertahan dengan mengelola toko furnitur miliknya dan menjalani terapi rutin bersama Dr. Mary Kline (Renata Reinsve).

Namun semuanya berubah ketika ia menemukan sebuah portal misterius di ruang bawah toko.

Di baliknya portal itu terbentang Backrooms, sebuah labirin kosong kuning dan koridor tak berujung yang seolah berada di luar realitas. Awalnya Clark hanya ingin memahami tempat tersebut. Sayangnya, rasa penasaran itu perlahan berubah menjadi obsesi.

Dan semakin dalam ia menyelami Backrooms, semakin jelas bahwa tempat itu menyimpan sesuatu yang tidak ingin di temukan— dan tidak akan membiarkan siapa pun kembali.


Baca juga: Disclosure Day: Film Baru Steven Spielberg yang Mengungkap Rahasia Terbesar Umat Manusia ke Publik!


Dari Legenda Internet ke Taruhan Besar Hollywood 🎬

Yang membuat perjalanan Backrooms begitu menarik bukan hanya karena film ini berasal dari internet. Internet telah melahirkan banyak legenda digital. Namun sangat sedikit yang berkembang menjadi fenomena budaya, apalagi berhasil menarik perhatian studio sebesar A24.

Naskah film ini ditulis oleh Will Soodik (Westworld), sementara kursi produser diisi oleh nama-nama besar seperti James Wan, kreator di balik semesta The Conjuring, dan Shawn Levy, produser Stranger Things dan Deadpool & Wolverine.

Kehadiran mereka menunjukkan bahwa Backrooms bukan lagi sekadar cerita yang hidup di forum internet, melainkan proyek horor yang benar-benar diperhitungkan oleh Hollywood.

Menariknya, semua itu berawal dari utas diskusi anonim di forum internet 4chan. Sebuah ruangan kosong berwarna kuning yang terlihat biasa saja, tetapi memunculkan rasa tidak nyaman yang sulit dijelaskan.  

Fenomena ini melahirkan konsep horor liminal place, tempat transisi yang tampak familiar tetapi terasa asing dari kehidupan. Koridor kantor yang sepi, pusat perbelanjaan yang sudah tutup, atau lorong sekolah saat tidak ada seorang pun di dalamnya.

Dari satu gambar itulah lahir ribuan teori, cerita, video, hingga komunitas selama bertahun-tahun terus memperluas mitologi Backrooms. Kini, fenomena yang dulunya hanya hidup di layar komputer berhasil berubah menjadi pengalaman sinematik berskala besar.


Baca Kisah Seru Lainnya di Sini!


Generasi Baru yang Sedang Mengubah Wajah Horor

Source: Variety

Di balik Backrooms juga berdiri generasi kreator muda yang berhasil mencuri perhatian industri film.

Sang sutradara, Kane Persons, pertama kali dikenal lewat serial The Backrooms (Found Footage) di YouTube yang viral dan ditonton jutaan kali. Kini di usianya ke-20 tahun, ia berhasil membawa proyek internet tersebut ke layar lebar dan mencatatkan namanya sebagai salah satu sutradara termuda yang pernah menangani film A24.

Semangat yang sama juga terlihat pada sinematografer, Jeremy Cox, yang membantu menerjemahkan dunia Backrooms ke dalam bahasa visual yang mengganggu sekaligus memikat.

Hasilnya berbicara sendiri. Backrooms sukses mencatatkan box office lebih dari 200 US juta dolar dan menjadi salah satu film paling sukses dalam sejarah A24.

Sebelum Backrooms membuka pintunya di bioskop Indonesia pada 10 Juni 2026, trailer resminya sudah lebih dulu mengajakmu melangkah masuk di sini,Grameds 👁️


Wajah-Wajah yang Tersesat di Dalam Labirin Backrooms 👥

Source: The Hollywood Reporter

Meski atmosfernya menjadi daya tarik utama, Backrooms juga diperkuat oleh jajaran pemain yang membawa misteri tersebut terasa semakin nyata.

Beberapa nama yang terlibat dalam film ini antara lain:

  • Chiwetel Ejiofor sebagai Clark, pemilik toko furniture yang tanpa sengaja membuka jalan menuju Backrooms.
  • Renate Reinsve sebagai Dr. Mary Kline, terapis Clark yang perlahan ikut terseret ke dalam misteri tersebut.
  • Mark Duplass sebagai Phil, ilmuwan Async yang meneliti fenomena Backrooms
  • Lukita Maxwell sebagai Kat, karyawan Clark yang ikut menghadapi konsekuensi dari penemuan tersebut.
  • Avan Jogia, sebagai Naren Warne, salah satu penjelajah Async di Backrooms

Dengan kombinasi aktor pemenang penghargaan dan talenta generasi baru, film berdurasi 111 menit ini menghadirkan karakter-karakter yang bukan hanya berusaha mencari jalan keluar, tetapi juga memahami apa sebenarnya tempat yang sedang mereka hadapi.


Ketika Ruang Kosong Terasa Lebih Menakutkan daripada Monster

Salah satu alasan Backrooms begitu membekas adalah karena ketakutannya datang dari tempat yang tidak biasa.

Kebanyakan film horor menawarkan ancaman yang jelas: makhluk mengerikan, rumah berhantu, atau sosok misterius yang terus mengintai dari balik bayangan.

Film ini justru memilih pendekatan yang jauh lebih sederhana sekaligus sulit untuk diabaikan. Ia membuat penonton takut pada ruang. Kane Parsons memanfaatkan perasaan ganjil tersebut untuk membangun atmosfer Backrooms.

Dan mungkin itulah alasan Backrooms berhasil menghantui internet selama bertahun-tahun. Jauh sebelum menjadi film A24, tempat itu sudah lebih dulu hidup di kepala banyak orang 👁️ 🟨


Baca juga: Lockwood & Co #1: The Screaming Staircase, Saat Krisis Hantu Nasional Ditangani oleh Ghostbuster Remaja


Jika Backrooms Membuatmu Tidak Nyaman, Coba Masuk Lebih Dalam Lagi…📚🕯️

Karena di luar lorong kuning itu masih ada labirin yang lebih aneh, lebih sunyi, dan lebih pandai membuatmu mempertanyakan apa yang sebenarnya nyata 👀 ꡙ‍

1. Akasha: The Liminal Zone — Season 1 — Junji Ito

Temukan Bukunya di Sini!

Bayangkan jika konsep liminal space yang membuat Backrooms begitu mengganggu diubah menjadi kumpulan mimpi buruk khas Junji Ito. Melalui berbagai cerita pendek, Junji Ito menghadirkan karakter-karakter yang terseret ke tempat, kejadian, dan fenomena yang terasa familiar sekaligus mustahil dijelaskan.

Sama seperti Backrooms, horornya tidak selalu datang dari monster, melainkan dari perasaan bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan dunia di sekitarmu.

Cocok untuk penggemar horor psikologis, dan cerita absurd yang membuat kepala terus berpikir setelah selesai membaca.


2. Akasha: Uzumaki – Ito Junji

Temukan Bukunya di Sini!

Di kota Kurouzu, Kirie Goshima mulai menyadari sesuatu yang aneh. Semua hal tampaknya terobsesi pada bentuk spiral. Apa yang awalnya terlihat seperti kebetulan perlahan berubah menjadi teror yang menginfeksi seluruh kota.

Jika Backrooms membuat penonton takut pada ruang kosong, Uzumaki membuat pembaca takut pada sesuatu yang selama ini terlihat biasa. Keduanya sama-sama membuktikan bahwa horor paling efektif sering kali lahir dari hal yang tampak tidak berbahaya.

Cocok untuk pembaca yang menyukai cosmic horor dan kisah yang semakin tidak masuk akal setiap babnya.


3. The Death of Ivan Ilych — Leo Tolstoy

Temukan Bukunya di Sini!

Mungkin terdengar seperti rekomendasi yang tidak biasa. Namun di balik horor dan misterinya, Backrooms juga berbicara tentang manusia yang kehilangan pijakan terhadap hidupnya sendiri.

Hal yang sama dapat ditemukan dalam kisah Ivan Ilych, seorang hakim yang mendadak dipaksa menghadapi pertanyaan terbesar dalam hidup ketika kematian mulai mendekat. Hanya rasa tidak nyaman yang tumbuh dari kesadaran bahwa hidup mungkin tidak berjalan seperti yang selama ini diyakini.

Cocok untuk pembaca yang menyukai horor eksistensial dan refleksi psikologis yang menghantui.


4. PTSD Radio Vol 01 — Masaaki Nakayama

Temukan Bukunya di Sini!

Sebuah rambut. Sebuah suara. Sebuah kejadian kecil yang terasa aneh.

PTSD Radio menyusun terornya melalui potongan-potongan cerita pendek yang perlahan membentuk gambaran besar yang semakin mengganggu.

Seperti Backrooms, manga ini tidak selalu menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Justru ketidakjelasan itulah yang membuatnya terasa menyeramkan.

Cocok untuk penggemar horor atmosferik yang lebih suka merasa gelisah daripada dikagetkan.


5. Akasha: Ito Junji’s Selected Collection – Ito Junji

Temukan Bukunya di Sini!

Kumpulan cerita pilihan Junji Ito ini menghadirkan berbagai bentuk ketakutan yang sulit diprediksi. Mulai dari fenomena aneh, kutukan yang tidak masuk akal, hingga kejadian-kejadian yang perlahan menghancurkan kewarasan pada karakternya.

Kalau Backrooms membuatmu bertanya apa yang tersembunyi di balik lorong berikutnya, Shiver akan membuatmu bertanya apakah seharusnya kamu membuka halaman berikutnya.

Cocok untuk pembaca yang ingin mengenal dunia Junji Ito melalui karya-karya terbaiknya.


Sebelum Lampunya Padam, Mungkin Ini Saat yang Tepat untuk Membawa Pulang Bacaan Baru 🟨📚

Jika Backrooms membuktikan bahwa tempat paling menyeramkan kadang terlihat biasa saja, mungkin rak bukumu juga sedang menyimpan beberapa pintu menuju dunia yang sama anehnya.

Kabar baiknya, kamu bisa menjelajahi berbagai kisah misteri, horor psikologis, thriller, hingga manga karya Junji Ito dengan lebih hemat lewat Promo 6.6 Gramedia.

Catat syaratnya, Grameds!

✨Diskon hingga 50% untuk produk terbitan Gramedia.

📅Periode 6-12 Juni 2026

Siapa tahu, buku berikutnya yang kamu buka tidak hanya membawamu ke dunia baru. Tapi juga ke tempat yang membuatmu terus menoleh ke belakang setelah lampu kamar dimatikan 👀📚

Temukan Spesial Promo nya di Sini!

✨Jangan lupa juga untuk cek promo spesial lainnya di Gramedia.com supaya belanjamu makin hemat dan bermakna! ⤵

Temukan Semua Promo Spesial di Sini!