AUTHOR OF THE MONTH: Dokter Gia Pratama, Musibah yang Berujung Indah

AUTHOR OF THE MONTH: Dokter Gia Pratama, Musibah yang Berujung Indah

. 4 min read

Berawal dari berbagi kisah patah hati hingga menemukan jodoh, kicauan dokter Gia Pratama pun viral. Siapa sangka, dari viral, kini kisah pencarian cinta itu telah dibukukan dalam bentuk novel berjudul #BerhentidiKamu.

Novel tersebut dirilis secara resmi pada 8 Desember 2018 lalu. Saat momen peluncuran buku #BerhentidiKamu itu, dokter Gia Pratama menyempatkan diri berbincang dengan Gramedia.com seputar proses penulisan buku pertamanya tersebut.

Seperti apa bincang-bincang tentang buku #BerhentidiKamu bersama dokter Gia Pratama? Yuk, kita simak sesi tanya jawab berikut ini.

Bagaimana awalnya kisah pencarian cinta dokter bisa sampai viral di media sosial?

Ini sebenernya kisah yang sudah lama sakitnya. Sudah lama, aku pun juga sudah bahagia sama Vira (istri dr Gia Pratama). Tapi kok bisa nulis sepedih itu, tahu nggak kenapa? Jadi waktu itu kita September ke Eropa. Sepertinya Allah tuh nggak suka kalau kita terlalu larut dalam kebahagiaan dan kesenangan yang mengarah ke takabur. Nah, di Eropa aku kehilangan tas, cukup gede. Isinya semua benda yang aku cintai selain istriku.

Kamera baru, lagi sayang-sayangnya. Dompet, semua kartu, KTP dan semua, kartu dokter, uang. Oleh-oleh yang Vira beli selama di Jerman di situ semua. Yang paling parah, adalah paspor. Itu yang benar-benar bikin nggak bisa pulang kalau nggak diurus.

Itu kan (kehilangannya) di perjalanan dari Jerman ke Swiss. Begitu sampai Swiss aku urus semua, dan aku harus ke Bern, ibu kotanya, di mana tempat kedutaan besar Indonesia berada. Di situ aku harus mengurus paspor, dan itu jaraknya lumayan, kayak dari Jakarta ke Garut gitu. Kebayang kan. Nah kan ini perjalanannya dua jam pakai kereta, di perjalanan inilah aku nulis di Twitter.

BERHENTIDIKAMU
Dok Gramedia.com

Ya. Dengan segala keperihan kehilangan tas, aku menulis, aku curahkan, aku salurkan dalam bentuk tulisan kisah menemukan istri ini. Selesai, sudah begitu saja. Aku enggak ada pikiran apa-apa, karena di sana setelah urus-urus ya aku menenangkan hati, main salju, senang-senang. Tiba-tiba itu viral.

Setelah viral, bagaimana proses hingga dipinang oleh penerbit?

Cuitan aku waktu itu dibaca lebih dari dua juta orang. Kaget pastinya. Saat masih di sana saya sudah ditelepon. Waktu itu ada dua penerbit. Kebetulan salah satunya Mizan.

Saat itu aku bilang, ya udah tunggu aku pulang, nanti ketemu. Dua-duanya datang menemui saya. Luar biasanya lagi, pihak Mizan yang menghubungi saya itu pemiliknya langsung, namanya Pak Haidar Bagir.

Wah saya merasa terhormat sekali. Kaget saya, karena ujug-ujug dia DM (Direct Message). Beliau bilang akan ada yang menghubungi saya. Ya sudah. Akhirnya, entah kenapa aku lebih sreg sama Mizan.

Sejak pertemuan dengan penerbit, seperti apa persetujuan untuk menulis buku?

Langsung berlanjut proses penulisan. Dan dari pihak penerbit bilang kalau mau bikin digital marketing juga. Langsung bikin ini itu, aku juga nggak tahu, karena ternyata penerimaannya luar biasa.

Saat itu saya bilang di sosmed, dengan kalimat, ‘siapa yang mau tahu resensi buku pertama saya’, ternyata luar biasa sekali responnya, sampai 15 ribuan. Padahal ekspektasi saya paling ya cuma 300, 400 lah paling banyak. Aku maintain terus sampai akhirnya launching hari ini.

Jujur saya masih percaya nggak percaya bukunya launching hari ini. Cuma ya sudah dijalani jadi harus semaksimal mungkin.

Berapa lama proses persetujuan menulis hingga akhirnya rilis?

September viral, diajak kerja sama Oktober dan November, sampai rilis hari ini.

Ada kesulitan saat proses penulisan? Seperti apa permintaan penerbit saat itu?

Dari penerbit cuma bilang, "Dok ini kan masih mentah banget di Twitter, ayo nulis lagi.” Aku disuruh nulis 200-an halaman. Nggak tahu kenapa semua terasa everything already inside, jadi semua aku keluarin aja. September itu juga selesai.

Wah, cepat sekali?

Kenapa cepat? Pertama, ini karena kisah nyata, aku rasakan sendiri. Aku tinggal ingat aja kan, dikeluarin aja. Dan aku sengaja bikin segmen waktu sejak umrah sampai aku nikah. Nah, segmen waktu itu aja aku pakai untuk buku ini.

Ide kreatifnya seperti apa? Materi penulisannya dari mana saja?

Kisah tulang punggungnya ini memang pencarian cinta, tetapi tulang rusuk ceritanya ya selama waktu itu kan aku tetap kerja sebagai dokter. Jadi kisah di rumah sakit, kisah pasien, kisah ICU, kisah IGD itu yang bikin buku ini tegang, haru, sedih.

Tidak ada masalah atau hambatan sama sekali?

September akhir langsung selesai. Oktober sudah edit. Habis itu langsung maintain digital marketingnya. Saya sendiri kaget. Ternyata sudah oke, tinggal edit edit sedikit. November sudah ada ilustrasi segala macam.

BERHENTIDIKAMU
Dok Gramedia.com

Tidak ada rasa canggung saat pertama kali menulis?

Penerbit sendiri kaget, “Dok, biasanya orang nulis kayak gini saat sudah buku kedua atau buku ketiga. Ini dokter buku pertama, loh. Dok jangan berhenti," kata mereka. Jadi aku April itu sudah harus nerbitin buku kedua.

Merasa menemukan passion baru kah lewat menulis buku?

Bukan menemukan passion baru, cuma jadi merasa dokter nih kemana aja coba? “Kenapa nggak dari dulu nulis sih,” kalau kata penerbit. Mereka gemes juga. Ya, memang sih aku bilang semua indah pada waktunya.

Jadi bagaimana rasanya jadi penulis dengan proses serba dilancarkan?

So far semua selancar ini memang karena tepat waktunya, kan. Ya sudah dijalani saja. Makanya April sudah harus buku kedua. Buku kedua masih akan diambil dari cuitan saya, sepertinya.

Apa harapan dokter Gia ke depannya sebagai seorang penulis?

Menulis itu, seperti aku sedang menulis resep. Resep obat, yang tujuannya mengobati menyembuhkan orang-orang yang membacanya, kan. Nah isi resep ini adalah sebuah ramuan, racikannya aku bikin dari tiga hormon, dopamin oksitosin, dan endorfin yang akan terinfus setiap kali dibaca.

Dopamin akan membuat pembaca fokus, oksitosin akan membuat kita merasakan empati, “eh gue juga pernah ngerasain kayak gitu”, dan endorfin akan membuat perasaan lega dan bahagia. Itu tujuan aku menulis buku.

Dan formula ini akan aku pakai untuk menulis buku-buku selanjutnya. Di mana aku maunya orang-orang akan merasa feeling better setelah baca tulisan-tulisanku.

Bersambung...


Foto: Dokumentasi Gramedia.com