AUTHOR OF THE MONTH: Dokter Gia Pratama dan Star Syndrome

AUTHOR OF THE MONTH: Dokter Gia Pratama dan Star Syndrome

. 2 min read

Dokter Gia Pratama menjadi sorotan setelah cuitannya viral via Twitter. Berawal dari cuitan kisah pencarian jodoh, saat ini dokter Gia Pratama telah sukses merilis novel pertamanya yang berjudul #BerhentidiKamu.

Tentu saja, nama dokter yang satu ini semakin dikenal netizen di dunia maya. Lalu apakah hal ini berpengaruh ke kehidupan nyatanya sebagai seorang tenaga medis?
Jawabannya ternyata tidak. Justru, menurut sang dokter yang kini juga berprofesi sebagai penulis itu, jas putih dokter lah yang menyelamatkannya dari efek negatif setelah tenar di dunia maya.

"Di buku itu, bahkan saya tulis jas putih itu menyelamatkan saya dari everything. Jas putih itu, setiap saya pakai, mau punya masalah apapun, gone, hilang. Mau mental breakdown kayak apa juga hilang, begitu pun kalau lagi bahagia-bahagianya, langsung netral saat pakai jas itu. Jas putih itu kayak zat penetral buat saya," ujarnya dalam sesi tanya jawab bersama Gramedia.com, baru-baru ini.

Bagi dokter Gia, dirinya mungkin sekarang terkenal di dunia maya. Namun saat sudah di rumah sakit dan bertugas sebagai dokter, ia sudah tak memikirkan hal lain, kecuali pasien.

Ia hanya fokus merawat dan menyembuhkan pasien. Karena hal itu juga, dokter Gia merasa yakin terhindar dari istilah star syndrome alias lupa diri setelah terkenal.

“Jas putih itu pokoknya penetral. Star syndrome? Juga netral. Yang ada di pikiran aku kalau sudah di rumah sakit, tinggal aku sama pasien yang butuh banget aku tolong, karena kalo enggak ini pasien jantungnya bisa berhenti, nih,” ujarnya.

BERHENTIDIKAMU

Lagi pula, tambahnya, tidak ada hal-hal yang memancing dirinya terkena star syndrome. Semua orang memerlakukannya dengan wajar. Tak ada yang berubah, sekalipun saat ini namanya sudah tenar di jagat maya.

“Enggak ada yang ngenalin saya seperti, 'wah ini dokter Gia yang anak pilot yang di Twitter itu ya?' Enggak ada. Atau yang sengaja dateng ke rumah sakit minta foto. Nggak ada. Jadi benar-benar separate world banget,” lanjutnya.

Apalagi, kebanyakan pasien yang diobatinya, adalah mereka yang sudah berusia lanjut. Jadi rasanya mustahil jika pasien-pasien itu meributkan soal identitas lain dokter Gia sebagai seorang selebtwit.

“Yang dateng ke aku ya kakek-kakek paling kan, ya enggak mungkin juga saya tanya, bapak kenal saya nggak? Mana ada kakek-kakek kepikiran saya,” ucapnya seraya tertawa.

Itu sebabnya, meski sibuk menulis di tengah profesinya sebagai dokter, sama sekali tidak mengganggu. Bahkan usai merilis novel #BerhentidiKamu pada Desember lalu, dokter Gia sudah bersiap untuk menyelesaikan novel keduanya pada April 2019 mendatang.

Bersambung...


Foto: Dokumentasi Gramedia.com