AUTHOR OF THE MONTH: Valerie Patkar di antara Penulis Hebat dan Hambatan Menjadi Lebih Baik

Kisah-kisah khas mahasiswa dan remaja ala Valerie Patkar begitu menyenangkan untuk dibaca dari awal hingga akhir. Di balik tulisan-tulisan ringan dan menyenangkannya itu, tentunya ada sosok-sosok penulis senior yang menjadi inspirasi.

Benar saja, Valerie menyebut dua nama penulis idolanya, satu penulis dalam negeri, satu lagi penulis luar negeri yang selalu menjadi idolanya dan menjadi inspirasinya dalam melahirkan karya baru.

Penulis yang pertama yaitu, Jacqueline Wilson. Penulis asal Inggris ini dikenal sebagai salah satu penulis buku anak-anak, namun dengan tema-tema yang lebih dewasa, seperti tema perceraian orangtua, adopsi, dan juga tema tentang kesehatan mental.

“Sampai detik ini masih Jacqueline Wilson (yang menjadi inspirasi), dia novelis anak-anak. Dari masih SD gue selalu baca cerita-cerita dia,” ungkap Valerie Patkar kepada Gramedia.com baru-baru ini.

Lihat postingan ini di Instagram

Sebuah kiriman dibagikan oleh Valerie Patkar 🌝 (@valeriepatkar) pada

Untuk penulis dalam negeri, ternyata Valerie mengagumi sosok Leila S. Chudori.

“Tapi orang yang bener-bener bikin gue pengen nulis itu Tante Leila S Chudori. Gue suka banget karya-karya dia, gue baca semua, berawal dari situ gue pengen nulis lebih baik lagi, jadi dari situ ada tingkatan standar, gue harus lebih baik lagi,” ungkapnya dengan antusias.

Tulisan-tulisan Leila S. Chudori yang dikenal kuat di tiap karakter, dan fiksi yang terasa seperti nonfiksi, ternyata menularkan sisi positif pada Valerie. Ia pun mencoba menuliskan fakta yang diselipkan di antara kisah fiksi yang sedang ditulisnya. Misalnya seperti beberapa bagian di novel terbarunya, yang berjudul Nonversation.

“Di novel yang sekarang pun di Nonversation, ada gue selipin fakta sejarah, bukan yang berat juga, sih. Tapi memang kan yang bikin Tante Leila itu sangat menginspirasi gue gimana dia bisa mengemas fakta dan bisa beropini juga di situ tanpa menyudutkan beberapa pihak, tapi jadi,” ungkapnya.

Dia pun mengaku seperti tersihir tiap kali membaca karya-karya Leila S. Chudori. Apalagi dulu saat pertama kali membaca karya Leila dirinya masih di bangku sekolah.

“Fiksinya (karya Leila S. Chudori) berat tapi anak-anak seumur gue juga bisa baca. Gue dulu bacanya pas masih muda. Jadi gue dulu pas baca di umur segitu gue amaze, gimana orang yang kayak dia, dengan fakta seberat itu bisa membangun fiksi yang bisa disuka orang. Jadi, itu yang akhirnya bikin gue nyelipin fakta ringan, tapi dari pengemasan cerita dan karakterisasinya yang bikin gue sangat terinspirasi,” tuturnya.

Valerie pun sangat tertantang untuk terus bisa memperbaiki kemampuannya menulis dan menyampaikan sebuah kisah. Meski memang, tak selalu mulus saat eksekusi penulisannya. Seperti ketakutan dan kebingungan mengenai kelanjutan cerita yang sedang dikerjakan.

Lihat postingan ini di Instagram

Sebuah kiriman dibagikan oleh Valerie Patkar 🌝 (@valeriepatkar) pada

“Yang jadi masalah diri kita sendiri dan rasa insecure kita, gue pun sampai detik ini nggak puas. Itu yang jadi musuh terbesar kita ngejar mimpi. Kayak gue pengen jadi penulis hebat, tapi kadang ada masa gue udah tahu mau bikin apa, tapi gue hapus lagi, karena gue merasa bukan gini yang gue mau. Gue rasa itu sih yang sering menghambat gue,” lanjutnya.

Namun dia selalu bangkit setiap kali mengingat dukungan dari keluarga dan teman-teman terdekat. Dia juga selalu berusaha mengalahkan rasa takutnya.

Baginya, siapapun yang baru mencoba atau sedang belajar menjadi penulis, harus mampu menaklukkan rasa takut soal hasil akhir karyanya. Jangan terlalu pusing karya tersebut disukai atau tidak, yang penting bisa melewati proses memberanikan diri.

“Tips buat penulis, jangan takut salah. karena itu gue banget dulu, gue selalu takut salah. Waktu nulis gue merasa apa yang udah gue tulis nggak pantes dipublikasiin, nggak pantes dibaca orang, tapi ternyata dari semua kesalahan itu orang bisa nemuin titik bagusnya, nemuin message-nya. Jadi, jangan bikin kesalahan itu jadi boomerang yang bikin lo nggak maju. Jangan bilang aduh tulisan gue nggak bagus. Justru kalo lo ngerasa tulisan lo nggak bagus sekarang, lo harus belajar supaya tulisan lo lebih baik lagi,” tandas Valerie.