AUTHOR OF THE MONTH: Dodi Prananda Si Penulis Buku Ragam Genre

Besok Kita Belum Tentu Saling Mengingat karya Dopra baru saja terbit pada November 2019 lalu. Buku kumpulan puisi setebal 160 halaman itu menjadi karya puisi pertama pemilik nama asli Dodi Prananda yang diterbitkannya di penerbit mayor. Puisi-puisi dalam Besok Kita Belum Tentu Saling Mengingat mengekspresikan luka hati yang hadir dari kekecewaan.

Sebelum menerbitkan buku kumpulan puisi, Dodi Prananda sudah menerbitkan lima cerpen dan novelet bersama, tiga novel solo, dan satu karya nonfiksi. Melihat beberapa bentuk buku yang diterbitkannya, Dodi memang menuntut dirinya untuk bisa menulis apa saja. Untungnya, Dodi sudah suka menulis sedari kecil.

Menjadi Author of the Month bulan Desember 2019, Gramedia.com berbincang dengan Dodi Prananda seputar kesukaannya dalam menulis. Dodi juga bercerita tentang betapa dekatnya ia dengan sang ibu yang memengaruhinya untuk gemar membaca dan menulis.

“Sejak kepergian ibu. Itu umur 10 tahun. Dorongan menulisnya lebih ke bagaimana seorang anak laki-laki yang tidak komunikatif ke orangtuanya—kurang bisa mengekspresikan perasaan ke orang terdekatnya—mencari cara untuk bisa berkomunikasi,” terang Dodi saat ditanya sejak kapan ia mulai menulis.

Lewat tulisan, Dodi merasa nyaman untuk menyampaikan perasaannya. Kepergian sang ibu jadi momentum Dodi untuk menulis yang tidak sekadar meluapkan perasaan dalam bentuk catatan saja melainkan juga dalam bentuk lain yaitu cerpen. Sejak saat itulah, ia mulai gandrung menulis.

Kedekatannya dengan sang ibu jugalah yang menjadi awal mula Dodi suka membaca. Ia membeberkan cara unik sang ibu. “Kalau ibu ke pasar suka ribet. Beliau bilang kalau mau di rumah dan nggak nakal, nanti akan dibelikan majalah Bobo dan buku bacaan. Dari situ suka baca,” terang Dodi.

Selain majalah Bobo, Dodi kerap dibelikan buku pendukung pelajaran di luar buku wajib. Salah satunya adalah buku teks pelajaran Bahasa Indonesia yang kerap diisi dengan banyak cerpen. Dodi juga dibelikan komik—salah satu yang paling sering sang ibu belikan adalah komik Doraemon.

Dodi Prananda bersama buku puisi teranyarnya (Gramedia.com/M. Fachrio Alhadar)

Berawal dari Menulis Cerpen

Sebagai seorang penulis, Dodi Prananda mengawalinya dengan berlatih menulis cerpen. Dodi yang tinggal di Padang sempat ikut sebuah sanggar menulis bersama sastrawan sekaligus jurnalis Yusrizal KW. Dodi mengatakan bahwa Yusrizal KW sendiri belajar langsung dari sastrawan kawakan Indonesia AA Navis.

“Karena beliau (Yusrizal KW) basisnya cerpen, maka diajarkannya juga cerpen. Kenapa cerpen? Karena bagi beliau, format cerpen itu paling challenging. Dalam ruang yang sempit, kita harus bisa menuangkan setidaknya satu atau dua gagasan,” ujar Dodi.

Karena mulai berlatih dengan cerpen, Dodi lebih banyak membaca cerpen untuk menambah khazanah wawasannya tentang cerpen. Ia pun sempat kesulitan membaca karya novel. “Waktu itu karena sudah terbiasa baca cerpen, ngos-ngosan ketika baca novel. Semacam pelari jarak pendek disuruh lari maraton,” aku Dodi.

Berlatih menulis cerpen Dodi membuahkan hasil. Beberapa cerpennya ditayangkan di media massa termasuk koran lokal di Padang, majalah Kawanku, dan koran Media Indonesia. Berkat cerpen jugalah Dodi dilirik oleh salah satu penerbit dari grup penerbit Kompas Gramedia dan namanya masuk di sebuah buku antologi cerpen.

Menjadi penulis cerpen saja tidak cukup untuk Dodi. Ia menggagap bahwa dirinya harus mengeksplor bentuk penulisan yang lain. “Ketika kita sudah merasa selesai dengan format itu, kita mati sebagai pengarang. Akhirnya, aku berpikir harus menjadi pelari maraton,” ujar Dodi.

Selama masa peralihannya untuk menjadi penulis karya fiksi panjang, Dodi mengisinya dengan membaca novel anak. Alasannya karena fiksi genre tersebut relatif lebih tidak kompleks. Pilihannya adalah Kate DiCamillo yang hampir semua karyanya sudah dibaca Dodi.

Salah satu karya Kate DiCamillo yang dibaca Dodi adalah The Miraculous Journey of Edward Tulane. Karya itu menginspirasi lahirnya novel perdananya Rumah Lebah yang terbit pada 2014. Ia membeberkan bahwa unsur magis dan pemberian “nyawa” pada karakter boneka adalah apa yang dibawanya ke dalam fiksi buatannya.

Dodi pun menerbitkan karya nonfiksi berjudul Perantau Anti Galau pada 2018 dan karya puisi terbarunya pada akhir tahun 2019 ini. Besok Kita Belum Tentu Saling Mengingat menjadi buku kumpulan puisi karyanya sekaligus sebagai pembuktiannya.

“Ini pembuktian saya sebagai penulis harus bisa melompat—melompat secara kemampuan dan secara genre,” pungkas Dodi.

Bersambung…