AUTHOR OF THE MONTH: Rainbirds dan Tokoh Utamanya yang Tak Sempurna

AUTHOR OF THE MONTH: Rainbirds dan Tokoh Utamanya yang Tak Sempurna

. 3 min read

Jika membaca judul novel perdana Clarissa Goenawan, yaitu Rainbirds, pasti banyak yang bertanya-tanya tentang isi di dalamnya. Kemudian, pembaca akan membalik buku, dan membaca sinopsis yang ada di bagian belakangnya.

Setelah membaca penjelasan singkat tentang tokoh Ren dan juga Keiko Ishida, tentunya akan muncul pertanyaan, apa hubungan judul novel ini dengan kisah di dalamnya?

Kisah di Balik Pemilihan Judul

Clarissa Goenawan ternyata memiliki penjelasannya tersendiri. Saat ditemui dalam salah satu acara di Kemang, Jakarta Selatan, belum lama ini, ia menjelaskan bahwa pemilihan judul Rainbirds berawal dari kursus menulis yang pernah dijalaninya.

“Waktu itu harus menulis judul novelnya, dan waktu itu aku belum ada judulnya apa. Lalu aku browsing foto, ada foto anakku di belakangnya ada bunga-bunga, ada tulisannya Rainbirds. Wah bagus nih, pikirku. Aku kira itu nama bunga-bunga. Aku nanti tinggal tulis bunga-bunga yang apa gitu ya, oke aku pakai Rainbirds,” ungkapnya.

Lalu banyak yang setuju dengan pemilihan Rainbirds sebagai judul novelnya. Namun, ketika Clarissa Goenawan mencari info tentang si Rainbirds, hasilnya ternyata di luar dugaan.

“Tapi terus aku google, bunga Rainbirds itu ternyata enggak ada, karena itu bukan nama bunga, tapi nama alat menyiram bunga. Oh no, pikirku,” lanjutnya.

Karena sudah terlanjur, penulis yang lahir dan besar di Surabaya ini pun tetap memakai Rainbirds sebagai judul. Meski awalnya terpaksa, tapi untungnya cocok dengan kisah novelnya.

“Waktu itu novelnya sudah setengah jalan, setelah tahu ternyata Rainbirds bukan nama bunga, aku sambil google, apa sih Rainbirds itu. Ternyata Rainbirds itu nama burung, mereka berkicau sebelum hujan,” tuturnya.

Lebih dalam, Clarissa Goenawan mengatakan Rainbirds ini akan bertelur dan menaruh si telur di sarang burung lainnya. Setelah menetas, si anak burung ini akan dibesarkan oleh burung lainnya. Kebiasaan burung Rainbirds ini lah yang menggambarkan kehidupan dua tokoh di dalam novelnya, yaitu Ren dan Keiko.

Buat yang sudah membaca, pastinya paham, jika nasib Ren, seperti si anak burung Rainbirds itu. Sedikit spoiler, namun memang seperti itu penjelasannya. “Karena sebenarnya Ren dibesarkan oleh kakaknya. Jadi secara kebetulan masuk banget,” lanjut sang penulis yang kini menetap di Singapura.

Clarissa
Clarissa Goenawan. Sumber: dok. Gramedia Pustaka Utama

Sudut Pandang Laki-laki

Jika terus melanjutkan tentang tokoh Ren Ishida, pastinya akan banyak hal yang benar-benar membuat pembaca tenggelam dalam kisah-kisahnya. Tokoh laki-laki ini begitu kuat, dan sebagai penutur kisah, Ren Ishida benar-benar terasa nyata.

Bagaimana caranya Clarissa Goenawan bisa menciptakan dan berkisah dari sosok pandang seorang laki-laki, seperti Ren?

“Sebenarnya aku enggak pernah mikirin kenapa aku nulisnya dari point of view dari seorang cowok. Sampai bukunya terbit, terus aku ditanya orang-orang, baru aku oh iya ya, ternyata enggak biasa ya?” ungkapnya.

Jawabannya, ternyata karena Clarissa Goenawan sudah terbiasa membuat kisah dari sudut pandang laki-laki. “Aku kan awalnya dari menulis cerpen dan kebanyakan cerpennya dari sudut pandang laki-laki, jarang dari sudut pandang wanita,” katanya. Di lain sisi, katanya lagi, mungkin memang karena pola pikirnya yang seperti laki-laki banget.

“Tapi teman-temanku bilang, mungkin karena caraku berpikir memang kayak cowok banget. Kayak, aku enggak suka belanja, aku orang yang sangat logis, aku enggak pakai aksesoris, dan kalian bisa lihat bagaimana aku berpakaian, dengan sangat simpel. Jadi banyak orang yang bilang kalau secara umum, menurut orang, Clarissa lebih kayak cowok.”

Di luar dua alasan itu, alasan Clarissa Goenawan menciptakan sosok Ren Ishida, justru karena ingin membuat tokoh yang hidupnya lebih berwarna dari kisah pribadinya. Sosok yang hidupnya jauh berbeda dari kesehariannya.

“Kadang kita pengin nulis karakter yang berbeda dari diri kita sendiri. Saya rasa, tidak harus selalu menulis berdasarkan bagaimana kita, kalau misal kita menulis hanya berdasarkan (kehidupan asli si penulis) kita, kita enggak akan punya karya-karya tentang pembunuhan yang hebat, karena berarti orangnya di penjara semua, dan kita juga enggak akan punya karya-karya hebat seperti Harry Potter atau Lord of the Rings,” lanjut Clarissa Gonawan.

Tokoh Utama yang Tak Sempurna

Hal menarik lainnya dari Ren Ishida adalah sosoknya yang tak sempurna. Lagi-lagi, ini akan menjadi spoiler tapi juga akan semakin membuat penasaran. Yap, sepanjang novel, Clarissa Goenawan menjelaskan kehidupan Ren yang apa adanya. Banyak kekurangan dan sangat manusiawi.

Alasannya, tentunya Clarissa Goenawan ingin novelnya dekat dengan kehidupan nyata. Dia percaya, tak akan ada satu manusia pun yang akan memiliki kehidupan sempurna, begitu juga dengan Ren Ishida di novel ini, yang digambarkannya sebagai bad boy.

Ren is the guy you shouldn't be dating. He’s annoying, obviously. Saya percaya seorang karakter enggak bisa selalu positif dan enggak bisa selalu negatif. Jadi kalau baca di Rainbirds enggak ada satu karakter yang sempurna. Memang enggak ada yang sempurna ya. Jadi karakter utama aku pun enggak sempurna, yang penting bagaimana satu karakter bisa menjadi menarik,” tutupnya.

Bagaimana juga, meski tak sempurna namun perjalan Ren Ishida di buku ini memang menarik pembaca. Rasa penasaran akan pencarian jati diri Ren Ishida dan pengungkapan kematian sang kakak, Keiko Ishida sukses menjadi magnet di novel ini.

Bagi yang penasaran, yuk bergabung menjadi salah satu yang menikmati kehidupan tak sempurna Ren Ishida dalam novel Rainbirds. Novelnya, tentunya bisa langsung kalian baca lewat Gramedia Digital ataupun pesan di Gramedia.com. Selamat membaca!