Aurélie Moeremans Akhirnya Bersuara: Mengapa 'Broken Strings' Bukan Sekadar Cerita Patah Hati Biasa?
“Sebagian diriku tahu ia memutarbalikkan kebenaran lagi, tapi sebagian lainnya yang masih berdarah dan belum sembuh, tidak punya tenaga untuk melawan. Belum.”
Grameds, coba tutup mata sebentar. Berapa kali kamu bilang “aku baik-baik saja”, padahal sebenarnya kamu hanya bertahan? Tidak hancur, tapi juga tidak utuh.
Masih ingat dengan Aurélie Moeremans yang menggegerkan tanah air dengan bukunya yang berjudul Broken Strings? Berdasarkan pengalamannya sendiri, Aurélie sukses membuat orang-orang (termasuk penulis) meludeskan satu kotak tissue besar 😢.
Broken Strings datang bukan sebagai buku yang teriak, “Aku terluka!”, tapi sebagai cermin yang diam-diam nunjuk ke arah kita dan bilang, “Kamu capek juga ya?” Dan justru itu kekuatannya. Buku ini bukan tentang orang yang jatuh berkeping-keping. Ini tentang orang yang terlalu lama berdiri sampai lupa rasanya duduk dan bernapas.
Nah, Grameds, sudah siapkah kamu mengikuti kisah emotional roller coaster yang dialami Aurélie?
Luka Lama yang Mengendap
Ketika Aurélie memutuskan untuk menulis pengalaman grooming-nya saat berumur 15 tahun, itu pasti bukan keputusan yang mudah. Kisahnya dimulai dari Aurélie yang hidup bersama adiknya dan kedua orang tuanya dengan sederhana di Brussel, Belgia. Ketika ia mengunjungi neneknya di Bandung, beliau mengusulkan agar dirinya menjadi artis. Aurélie pun berpikir, “Kenapa enggak?” dan mengikuti kompetisi bakat serta berhasil memenangkan juara pertama. Hidup Aurélie berubah total ketika ia mulai makin terkenal.
Memoir Broken Strings menceritakan kisah nyata tentang manipulasi emosional, pemaksaan, perundungan, pelecehan seksual, dan kekerasan psikologis. Aurélie membagikan pengalaman ini dengan kejujuran dan kehati-hatian. Ia membagikannya secara PDF gratis lewat kanal Instagram-nya, karena dia ingin meningkatkan awareness kepada orang-orang yang mengalami pengalaman yang serupa.
Penasaran dengan isinya? Kamu bisa cek di sini!
Kamu Pasti Juga Penasaran Baca Ini: Lelah Berpura-pura? In the Clear Moonlit Dusk: Sebuah Pelarian Bagi Kamu yang Lelah Diberi Label
Bertahan itu Skill Hidup, Bukan Tujuan Hidup
“Aku memberinya kebohongan yang ia butuhkan untuk terlihat lembut, dan sebagai gantinya, ia memberiku potongan kecil kebebasan, rapuh, hampir tidak nyata.”
Kita sering berpikir sebuah luka harus terlihat. Harus ada momen besar. Harus ada tragedi. Padahal, beberapa luka lahir dari hal yang sepele. Tidak didengar, tidak ditemani, tidak pernah ditanya, “Kamu kenapa?” Broken Strings membicarakan luka yang tidak membuat seseorang jatuh, tapi membuatnya terlalu kuat, terlalu mandiri, terlalu bisa, terlalu biasa mengurus semuanya sendiri. Kita diajak untuk mengenali satu pola sederhana: tetap bertahan tanpa sempat menyembuhkan.
Ada fase di hidup dimana bertahan itu perlu. Bahkan menyelamatkan. Masalahnya muncul ketika bertahan menjadi mode “default”. Ibaratnya seperti lagi nunggu kereta di peron. Kamu berdiri di situ karena memang belum saatnya berangkat. Tapi lama-lama, kamu nunggu dan menjadi kebiasaan. Akhirnya, kamu lupa sebenarnya kamu mau kemana.
Di Broken Strings, kita melihat seseorang bisa kelihatan tenang, fungsional, dan “kuat” di mata orang lain. Tapi kenyataannya, itu hanyalah cangkang luar yang dipoles secara cantik. Dan ini bukanlah soal kurang bersyukur, ini soal tubuh dan emosi yang tidak pernah diberi jeda. Karena itu, tubuh kita mengaktifkan coping mechanism: “taktik” yang digunakan seseorang untuk menghadapi situasi yang bikin kamu stress. Cara kita bertahan bisa membantu di satu waktu, tapi bisa melelahkan di waktu lain. Dan buku ini tidak menghakimi, hanya mengajak kita untuk stop sejenak dan mematikan mode autopilot-mu secara perlahan.
Ketika Emosi Tidak Hilang, Tapi Dikecilkan
“Ia mengikis keberanianku dan menggantinya dengan rasa bersalah yang dibungkus ajaran.”
Salah satu hal yang paling relatable dari Broken Strings adalah bagaimana emosi tidak benar-benar hilang. Mereka hanya dikecilkan, disingkirkan, dan digeser ke pojok. Padahal, mungkin yang sebenarnya terjadi adalah mati rasa yang rapi. Buku ini mengedukasi pembaca tentang kondisi emosional tanpa harus memberi label berat. Dan kita juga diajak bertanya, “Kapan terakhir aku jujur sama perasaanku sendiri?”
Nah, bagaimana perasaanmu sekarang, Grameds? Perasaan apapun yang kamu rasakan saat ini: entah itu sedih, dikecilkan, atau marah, let it go. Tidak usah terburu-buru, take your time. Dan bagi para pembaca yang masih belum berani untuk mengungkapkan isi hatinya yang jujur, it’s okay too. Because there’s no race at all in your life. You’re the one who controls your life.
Dan jangan khawatir, penulis punya beberapa rekomendasi buku untuk menemani keadaanmu yang serupa 😊
1. Beach Read – Emily Henry
Dua penulis, dua genre. Enter: penulis romansa yang sinis, January Andrews, dan penulis fiksi sastra yang serius, Augustus Everett. Mereka melakukan swap genre untuk mengatasi writer’s block masing-masing. Saling bertetangga di rumah pantai, mereka bertaruh untuk menulis buku yang sukses di genre lawan. Kedekatan mereka itu memicu kisah cinta yang tidak terduga.
Novel ini bukan sekadar romansa--komedi biasa. Tokoh utama kita, January Andrews, sedang berjuang menghadapi duka, kehilangan, dan konflik batin tentang ayahnya yang ternyata menyimpan rahasia besar. Perjalanan Januari dalam memahami rasa sakit, merombak masa lalu, dan menyusun ulang harapan membuat Beach Read bukan hanya sekadar soal cinta, tapi bagaimana luka bisa menjadi ruang pertumbuhan.
2. Welcome To The Hyungnam-Dong Bookshop – Hwang Bo-reum
Welcome to The Hyunam-Dong Bookshop menceritakan kisah Yeongju, wanita pecinta buku yang memutuskan untuk membuka toko buku kecil di pinggiran Seoul untuk memulai hidup baru. Petualangan baru Yeongju membawanya menemukan penyembuhan melalui buku, kopi, serta interaksi hangat dengan pelanggan dan komunitasnya.
Berlatar modern dan slice of life dari Korea, novel ini adalah novel reflektif yang menenangkan. Kisah-kisah hidup sederhana para karakter yang tidak hanya berpusat pada Yeongju sangat relate dengan kehidupan kita sehari-hari. Entah itu pencarian jati diri, cinta, dan relasi dengan kehidupan masyarakat. Jika kamu sedang ingin healing dan mencari makna dalam hidup, maka novel ini cocok dibaca saat hati lagi perlu pelukan naratif setelah mengalami luka emosional.
3. Almond – Sohn Won-Pyung
Apa jadinya jika kamu divonis penyakit langka yang membuatmu tidak merasakan emosi? Mari bertemu Yoonjae, remaja penderita alexithymia, yaitu kondisi langka yang membuatnya tidak mampu merasakan dan mengekspresikan emosi seperti bahagia, takut, atau sedih, sehingga ia terlihat berbeda dari orang lain. Dibimbing oleh ibunya, hidup Yoonjae berubah setelah bertemu, Gon dan Dora.
Kalau Broken Strings lebih eksplisit, Almond menggali pengalaman batin tokoh yang punya kondisi unik dalam merasakan dan mengekspresikan emosi. Novel ini juga berfokus pada identitas, hubungan, dan bagaimana belajar membuka diri kepada dunia di tengah keterbatasan emosional.
Yuk Baca Juga: Jangan Tunggu Berani: Belajar 'Nekat' ala Bundle Brent di The Seven Dials Mystery!
(Not So) Broken…
Pada akhirnya, Broken Strings itu bukan buku tentang patah semangat. Buku ini adalah tentang transisi. Tentang fase di mana seseorang mulai menyadari bahwa bertahan saja tidak cukup, tapi dengan beberapa hal, bisa membuat kita merasa cukup dan momentarily alive again. Contohnya seperti…. Promo diskon buku sampai 70%! 🎉
Psst! promo HUT ke-56 Gramedia ini masih berlaku sampai 17 Februari 2026 loh! Yuk, jangan sampai ketinggalan! 🔥