5 Tokoh Wanita dalam Buku dengan Semangat Kartini

Setiap 21 April, kita kembali diingatkan dengan peringatan Hari Kartini. Dengan kata lain, kita kembali mengenang perjuangan Raden Adjeng Kartini dalam memperjuangkan emansipasi wanita.

Kartini yang dikenal sebagai pelopor kebangkitan wanita Indonesia ini sudah melakukan banyak hal. Mulai dari berusaha agar wanita Indonesia memiliki kebebasan menuntut ilmu dan belajar, hingga menuliskan buku yang berisikan pemikiran-pemikiran tentang majunya wanita pribumi ketika itu.

Jika membicarakan Kartini, tentunya hingga kini semangatnya masih terus terasa. Semakin banyak Kartini hari ini yang tumbuh di Indonesia, dan membanggakan Indonesia. Bahkan, tokoh-tokoh dalam buku pun ada yang membuat kita terkenang akan perjuangan Kartini yang selalu ingin memajukan peranan wanita Indonesia.

Untuk mengetahui tentang tokoh-tokoh dalam buku tersebut, Gramedia Digital, sudah siapkan daftarnya untuk kamu. Berikut penjelasan selengkapnya.

1. Nyai Ontosoroh - Bumi Manusia

Nyai Ontosoroh bukanlah tokoh utama di buku karya Pramoedya Ananta Toer ini. Namun penokohannya yang tangguh, mencuri perhatian banyak pembaca.

Perjuangan Nyai Ontosoroh mengelola harta kekayaan sang suami, Herman Mellema, mengingatkan kita pada emansipasi wanita.

Meski tak berpendidikan, Nyai Ontosoroh membuktikan dirinya mampu mengelola bisnis yang dipercayakan oleh suaminya. Ia juga tetap berperan sebagai ibu rumah tangga, sekaligus ibu dari kedua anaknya, yaitu Robert Mellema dan Annelies.

2. Amba - Amba

Tak cuma judul, Amba juga merupakan nama tokoh utama di buku ini. Kisah Amba di buku karya Laksmi Pamuntjak ini beralur maju mundur. Ada kalanya Amba bercerita tentang hidupnya saat ini, di mana ia mencari kekasihnya, Bhisma, yang hilang.

Kemudian ada masanya kisah kembali ke era 1965, di mana saat itu Amba menolak perjodohan yang diinginkan orangtuanya. Dulunya Amba ingin dijodohkan dengan seorang dosen bernama Salwa. Ia lebih mengikuti kata hatinya, yang terlanjur menyukai Bhisma.

Dari sini kita bisa merasakan bagaimana Amba bisa memperjuangkan keinginannya, dan bisa menjalani apa yang diinginkannya tanpa harus terkekang paksaan keluarganya.

3. Ny. Likas Tarigan Jamin Gintings - Perempuan Tegar dari Sibolangit

Saat melihat sejarah hingga puluhan tahun lalu, kita akan sadar betapa posisi perempuan zaman dulu, belum seperti sekarang. Belum banyak pemimpin-pemimpin perempuan, belum banyak juga perempuan berpengaruh. Namun Nyonya Likas berhasil menjadi salah satu perempuan yang berpengaruh di masanya.

Kisah hidupnya lebih berwarna setelah menikah dengan Letnan Jenderal Jamin Gintings. Nyonya Likas mulai merasakan berbagai rintangan hidup, mulai dari merasakan hidup di pengungsian hutan rimba Tanah Alas hingga ke Kanada sebagai istri Duta Besar Berkuasa Penuh Republik Indonesia.

Namun di luar itu semua, wanita yang satu ini juga dikenal dengan semangatnya. Ia dikenal sebagai juru kampanye yang andal dan juga sebagai wanita Karo pertama yang menjadi anggota MPR selama dua periode berturut-turut.

4. Butet - Sokola Rimba

Semangat Kartini nampaknya mengalir deras dalam diri Butet Manurung. Terlihat bagaimana perempuan berdarah Sumatera ini mengabdikan hidupnya demi pendidikan di Indonesia.

Bulan sembarang pendidikan, namun Butet Manurung memperjuangkan pendidikan bagi mereka, orang Rimba. Meski sulit, karena pada awalnya kerap mendapat penolakan, namun Butet Manurung tak berhenti berusaha.

Hingga akhirnya ia dan juga rekannya bisa meyakinkan orang Rimba untuk menuntut ilmu. Pengalaman itu akhirnya ia tuangkan dalam buku berjudul Sokola Rimba.

5. Anissa - Perempuan Berkalung Sorban

Novel dari Abidah El Khalieqy ini berkisah tentang perempuan bernama Anisa yang ingin melanjutkan pendidikan. Sayangnya ia harus mendapat rintangan dari keluarganya. Ayahnya yang seorang kiai tak mengijinkan, kecuali dengan syarat Anisa harus menikah terlebih dahulu, melalui perjodohan dengan seorang anak kiai pilihan ayahnya.

Sayangnya, saat Anisa mengikuti keinginan sang ayah, ia justru harus menerima kenyataan jika sang suami berperangai kasar dan tidak baik. Dari sana Anisa mulai berani berontak hingga akhirnya bercerai.

Setelah bercerai, Anisa bangkit dari masalah rumah tangganya. Ia kemudian melanjutkan studi dan aktif mengikuti organisasi yang mengurusi hak-hak perempuan. Ia juga akhirnya menikah kembali dengan pria yang lebih baik dan memahami keinginannya yang selalu berusaha memperjuangkan hak-hak perempuan.


Kira-kira dari kelima tokoh di atas, yang mana yang paling Grameds suka? Atau jangan-jangan, kamu belum membaca kisah-kisah perempuan hebat di atas?

Bagi yang belum, mari baca kisah mereka. Karena, selain menonjolkan sosok perempuan hebat, banyak wawasan baru yang juga akan kalian temukan di setiap ceritanya! Jangan lupa langsung baca bukunya di Gramedia Digital ya!