5 Jurnalis Musik Indonesia yang Patut Jadi Panutan

Jadi wartawan yang khusus menulis musik alias jurnalis musik boleh jadi salah satu pekerjaan paling menyenangkan di dunia. Bayangkan, seorang jurnalis musik tak perlu repot membeli album atau lagu seorang penyanyi dan band. Label rekaman atau manajemen artis dengan senang hati mengirimkannya ke sang jurnalis.

Jurnalis musik juga bisa bertemu langsung penyanyi atau band favorit. Seringkali si penyanyi yang datang ke kantor redaksi. Sehabis wawancara bisa foto bareng, lalu pamer di medsos.

Dan yang paling asyik, jurnalis musik bisa nonton konser gratis. Terkadang konser artis pujaan berlangsung di luar negeri. Jadi sambil liputan konser kamu bisa jalan-jalan. Asyik banget, kan?

Meski serba menyenangkan, bukan berarti tanggung jawab yang diemban jurnalis musik jadi ringan. Sebagai orang yang dianggap lebih tahu dari orang awam, ia jadi penentu selera musik yang baik.

Bila ulasan album yang ia buat serba cetek, ringan seperti bulu, dan penuh kata klise sungguh mubazir. Begitu pula bila tulisan profil musisi yang ditemui eksklusif ternyata tak terlalu beda dengan rilis yang dibuat label atau manajemen artis.

Lantas pula, buat apa jauh-jauh nonton konser ke luar negeri tapi laporan konsernya ditulis mirip berita lempang (straight news) yang kering dan kaku?

Di sini kemudian profesi jurnalis musik tak boleh dianggap remeh. Bila ingin jadi jurnalis musik yang baik, menyenangi musik saja tak cukup. Hobi itu harus ditambah membekali diri dengan pengetahuan yang mumpuni tentang jagat musik berikut segala tetek bengeknya.

Salah satu sumber pengetahuan itu adalah buku yang baru terbit yaitu Jurnalisme Musik dan Selingkar Wilayahnya (KPG, Desember 2018) yang ditulis Idhar Resmadi.

Di bukunya, jurnalis musik sekaligus akademisi ini memaparkan tak cuma panduan jadi jurnalis musik yang baik. Lebih dari itu, ia juga membedah sejarah jurnalisme musik dunia dan Tanah Air.

Lewat buku ini kita tahu cikal bakalnya sudah ada sejak Indonesia belum merdeka. Ia juga memerkenalkan generasi sekarang dengan jurnalis musik dari segala zaman.

Negeri ini pun pernah punya jurnalis musik jempolan yang karya jurnalistiknya selalu disegani dan terus dikenang.

Berikut Gramedia.com merangkum 5 jurnalis musik melegenda yang pernah dimiliki dunia jurnalistik Indonesia. Sepak terjang mereka pun patut jadi panutan. Siapa sajakah mereka?

1. Harry Lim

Sumber: Doctor Jazz

Salah satu tonggak penting media musik di Tanah Air adalah terbitnya majalah mingguan yang digagas komunitas jaz, Batavia Rhythm Club pada 1940 di Jakarta.

Idenya berasal dari tokoh jaz, Harry Lim. Nama majalah komunitas itu Swing. Isinya berita, informasi, dan kritik seputar musik jaz dan musik dansa dari dalam dan luar negeri.

Harry rutin menulis ulasan dan reportase soal jaz. Berkat pengetahuan luas dan koleksi rekaman dengan selera yang tinggi, ulasannya jadi referensi dan patokan semua anggota komunitas.

Sayangnya majalah Swing hanya terbit setahun karena Harry memilih hijrah ke Amerika untuk menjadi produser musik.

2. Amir Pasaribu

Amir Pasaribu sebetulnya seorang komposer. Namun dia gerah melihat perkembangan dunia musik yang serba tak menentu di tahun 1950-an. Maka ia mencurahkan keresahan pikirannya ke dalam tulisan.

Tulisan-tulisannya kebanyakan tak dimuat di majalah khusus musik, tapi majalah kebudayaan dan susastra yang bergengsi di masa itu. Tulisan-tulisan Amir Pasaribu tersebar di majalah-majalah seperti Siasat, Mimbar Indonesia, Zenith, dan Aneka.

Di pengantar buku kumpulan tulisannya, Analisis Musik Indonesia (1986) dikatakan, dengan gaya khas dan tajam, ia menggugah kesadaran kita untuk memberi tempat yang layak untuk musik, dan mendorong setiap orang memikirkan masalah pendidikan musik.

3. Denny Sabri

Tidak afdal mengulas jurnalisme musik tanpa menyebut majalah Aktuil, majalah musik paling legendaris yang berjaya di dekade 1970-an. Majalah ini digagas Deny Sabri, bekas kontributor majalah Diskorina yang bekerja sama dengan Toto Raharjo, seorang pemilik percetakan di Bandung.

Di puncak kejayaannya, Aktuil dicetak 100 ribu eksemplar. Majalah ini sangat berpengaruh membawa tren musik rock di Indonesia kala itu. Salah satu keistimewaan Aktuil adalah Denny Sabri yang tinggal di Eropa memiliki akses langsung ke band rock Amerika dan Eropa.

Reportase Denny sangat memikat karena dia merasakan gairah konser-konser band rock secara langsung.

4. Remy Sylado

Sebelum dikenal sebagai sastrawan yang juga ahli bahasa, Remy Sylado angkat nama sebagai redaktur majalah Aktuil. Di majalah itu ia menulis puisi-puisi nyeleneh yang disebut "puisi mbeling". Selain itu, tentu saja laporan seputar musik.

Di tangannya, catat Idhar Resmadi, artikel musik adalah juga catatan kebudayaan dan peradaban. Di tangannya juga, sastra dan musik bisa menjadi sebuah pertautan yang utuh, koheren, seperti terekam dalam tulisannya soal puisi dan musik.

Selepas dari Aktuil, ia menulis dua jilid buku Ensiklopedia Musik dan banyak lagi buku musik, sastra, serta bahasa.

5. Denny Sakrie

Sumber: CNN Indonesia

Tepat 3 Januari 2015 Denny Sakrie yang dikenal sebagai pengamat musik dipanggil Tuhan karena serangan jantung. Yang unik, Denny mengawali karier sebagai penyiar dan music director radio pada 1980-an.

Karena kedekatan radio dan musik akhirnya membawa Denny jadi pengulas musik jempolan. Ia langganan diminta komentar soal musik, mulai dari rock hingga pop.

Semasa hidup tulisan-tulisannya dimuat di sejumlah media besar seperti Hai, Kompas, Republika, Tempo, dan Rolling Stone Indonesia. Dari tangannya pula lahir buku-buku Musisiku 1 dan 2 (sebagai editor dan penulis) serta 100 Tahun Musik Indonesia (2015).


Dari 5 jurnalis jempolan yang pernah dimiliki dunia jurnalistik musik Indonesia di atas, siapa yang paling jadi panutanmu?

Kalau ngin jadi jurnalis musik keren seperti mereka, kamu bisa mulai dengan membaca buku Jurnalisme Musik dan Selingkar Wilayahnya karya Idhar Resmadi ini. Dapatkan bukunya hanya di Gramedia.com.