5 Buku yang Bikin Kamu Melek Fenomena di Era Digital

Saat ini kita hidup di zaman yang sering disebut abad revolusi digital. Kita tengah menyaksikan perubahan cara hidup. Dari membaca koran dan majalah cetak menjadi baca berita di layar komputer dan smartphone, dari belanja baju ke mal jadi belanja di situs online, dari mendatangi biro perjalanan jadi beli tiket online di aplikasi, dari yang ribet cari taksi di pinggir jalan jadi pesan ojek atau taksi online sambil masih duduk di meja kantor.

Meski hidup kini terasa lebih mudah, bukan berarti segala perubahan tersebut berdampak positif. Soal konsumsi berita di era internet, misalnya, ternyata kita lebih suka berita yang serba pendek, ringan, dan judulnya bombastis alias clickbait. Belum lagi kecenderungan kita hanya percaya berita yang sepaham saja, tak peduli hoax atau bukan.

Sementara itu, segala migrasi ke online dan aplikasi meninggalkan persoalan baru, perusahaan yang terlambat migrasi besar ini bakal tergilas dilindas perusahaan start-up baru yang lebih inovatif.

Media sosial juga tak hanya bermanfaat meluaskan jejaring, namun juga memicu penyakit depresi. Maka, bagaimana agar bisa survive di era digital?

Salah satu cara menambah pengetahuan adalah dengan membaca buku. Buku-buku ini dipilih karena terbukti mampu menangkap fenomena era digital dengan baik sambil menawarkan solusi.

Berikut 5 buku yang bisa bikin kamu melek fenomena di era digital. Yuk, baca buku-bukunya!

1. The Shallows karya Nicholas Carr (2010)

Buku ini awalnya esai panjang di majalah Atlantic Monthly edisi Juli 2008 berjudul “Is Google Making Us Stupid?”. Penulisnya, Nicholas Carr lalu mengembangkan argumennya ke dalam buku The Shallows: What the Internet Is Doing to Our Brains yang pertama terbit tahun 2010.

Premisnya, keberlimpahan informasi di internet tak membuat kita kian pintar. Justru sebaliknya. Kebiasaan membaca artikel atau berita serba pendek membuat kemampuan kita tekun membaca buku hingga tuntas berangsur hilang.

Membaca teks di layar komputer maupun gawai yang dipenuhi tautan dan multi layar membuat orang susah fokus. Akhirnya, informasi cuma sliweran. Asal lewat, tidak tersimpan di memori dan jadi pengetahuan. Buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Beli bukunya di sini >>

2. The Great Shifting

Rhenald Kasali, seorang mahaguru bisnis dan manajemen jempolan negeri ini. Ia telah menerbitkan puluhan buku yang jadi panduan bagi pebisnis dan manajer.

Banyaknya buku yang telah ia tulis juga menunjukkan Rhenald sosok yang mengikuti perkembangan bisnis mutakhir dan cermat memaknainya. Yang paling baru, The Great Shifting, yang merupakan bagian dari seri buku Disruption.

Buku ini merekam berbagai fenomena disrupsi di banyak bidang, mulai dari cara berbelanja hingga traveling. Revolusi digital telah melahirkan perubahan besar (great shifting) pola hidup serta budaya baru.

Rhenald Kasali tak sekadar menangkap fenomena tersebut, tapi yang lebih penting bagaimana kita memaknainya dan bisa survive agar tak terlindas revolusi digital ini.

Beli bukunya di sini >>


Baca juga: (REVIEW BUKU) The Great Shifting: Menyikapi Perubahan Besar di Era Disrupsi


3. Jurnalisme Era Digital karya Ignatius Haryanto (2014)

Ignatius Haryanto adalah pengamat media yang rajin menulis. Artikel opininya bertebaran di berbagai media nasional. Ia antara lain telah menulis buku tentang koran Indonesia Raya, koran New York Times serta buku kumpulan artikel Aku Selebriti, Maka Aku Penting.

Buku Jurnalisme Era Digital adalah kumpulan artikelnya yang diterbitkan Penerbit Buku Kompas pada 2014. Walau berwujud kumpulan artikel yang dibukukan, ada benang merah yang menyatukannya yaitu wajah media dan jurnalisme di zaman internet.

Ia membahas perkembangan media baru (online) yang menggantikan media lama (cetak) berikut budaya baru yang lahir menyertainya, seperti kebiasaan konsumsi berita yang berubah dan jenis berita yang disajikan. Selain itu dibahas juga fenomena kepemilikan media oleh politisi dan kebebasan informasi.

Beli bukunya di sini >>

4. Everybody Lies karya Seth Stephens-Davidowitz (2017)

Seth Stephens-Davidowitz, ekonom lulusan Harvard, mengungkap fenomena big data lewat buku ini. Hal itu memang spesialisasinya. Ia seorang data scientist, penulis serta pembicara di berbagai seminar. Ia mengolah data, terutama dari Google, untuk menjabarkan siapa diri kita sesungguhnya.

Buku Everybody Lies mengungkap internet menyediakan jejak penggunanya berupa data yang maha besar. Data itu lebih akurat menggambarkan kepribadian seseorang dibandingkan survei mana pun.

Hasil pencarian di Google, media sosial hingga biro jodoh online menunjukkan minat seseorang pada topik atau hal tertentu yang mungkin di kehidupan nyata ia sembunyikan.

Di sini pula, kata buku ini, semua orang punya kecenderungan berbohong. Kita hanya perlu mengandalkan big data untuk mencari tahu kebenaran. Buku ini telah diterjemahkan Gramedia Pustaka Utama pada 2018.

Beli bukunya di sini >>

5. Matinya Kepakaran

Tom Nichols adalah profesor di US Naval War College. Buku yang ditulisnya ini lahir dari kecemasan melihat masyarakat Amerika saat ini: kecenderungan mereka percaya pada berita yang tak jelas sumbernya sambil mengabaikan opini ahli atau pakar. Fenomena ini ia tengarai dengan istilah the end expertise alias matinya kepakaran.

Ia juga melihat orang kini malas mencari informasi yang berimbang dan hanya dari sumber yang telah ia percayai sesuai pandangan dan sikap politik yang sebelumnya ia anut.

Itu sebabnya, orang berhaluan konservatif hanya percaya berita dari Fox News, sedang yang berhaluan liberal menjadikan MSNBC dan CNN sumber berita utama. Hal ini membuat masyarakat kian terbelah.

Fenomena itu tak identik terjadi di Amerika saja. Di tahun pilpres dan pileg masyarakat kita juga kian terpisah secara politis. Itu sebabnya membaca buku ini amat relevan di masa sekarang.

Beli bukunya di sini >>


Baca juga: (REVIEW BUKU) Matinya Kepakaran: Cermin Perilaku Kita di Dunia Maya



Tertarik dengan buku-buku di atas? Untuk rekomendasi buku-buku lainnya agar kamu bisa lebih melek dengan fenomena di era digital bisa kamu temukan di Gramedia.com.


Sumber header foto: Blog Yusran Darmawan