{"id":38929,"date":"2022-07-05T02:51:38","date_gmt":"2022-07-04T19:51:38","guid":{"rendered":"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/?p=38929"},"modified":"2023-06-26T13:54:09","modified_gmt":"2023-06-26T06:54:09","slug":"arti-dan-makna-fana","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/arti-dan-makna-fana\/","title":{"rendered":"Arti dan Makna Fana Pandangan Islam dan Perspektif Tokoh Sufi"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Arti dan Makna Fana<\/strong> &#8211; Fana&#8217; menurut disiplin ilmu tasawuf adalah lenyap dari sifat manusiawi yang terbelenggu dengan berbagai tuntutan syahwat dan hawa nafsu, hal keadaan tumpuan ingatan hati hanya tenggelam dalam menghayati sifat kesempurnaan dan keagungan Allah SWT. Hal demikian adalah karena fana merupakan kesadaran tingkat tinggi dan tumpuan ingatan yang jitu yang hanya tertuju kepada Allah SWT hingga ingatan dan perasaan terhadap perkara lain menjadi tumpul seolah-olah lenyap dari ingatan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Walaupun begitu, dalam wacana pemikiran akidah, banyak ditimbulkan isu-isu yang berkaitan dengan kesalahpahaman dan penyelewengan terhadap institusi tarekat, khususnya yang berkaitan dengan konsep fana&#8217;. Konsep kefanaan adalah salah satu konsep yang terkandung dalam disiplin ilmu tasawuf.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dorongan melalui proses ini bukanlah hal asing di mata tokoh-tokoh sufi Nusantara seperti Syekh Hamzah Fansuri. Ini karena konsep kefanaan dianggap sebagai aspek penting untuk mencapai kesempurnaan ma\u2019rifah Allah SWT. Istilah fana&#8217; dapat dirumuskan sebagai suatu kesadaran memori yang tinggi dan kuat yang hanya berfokus kepada Allah SWT sampai ingatannya terhadap selain Allah SWT menjadi tumpul, seolah-olah tidak dalam memori. Dengan kata lain, kehilangan kesad&#8217;aran makhluk adalah karena seluruh fokus hanya kepada Allah SWT.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sudah menjadi kebiasaan dalam disiplin ilmu tasawuf, konsep fana&#8217; selalu terhubung dengan istilah baqa\u2019. Menurut al-Qushayri (w. 465H), fana\u2019 adalah hilang sifat-sifat tercela (negatif), sementara kata baqa\u2019 berarti muncul sifat-sifat terpuji (positif) dalam diri seorang sufi. Adapun menurut al-Kalabazi (w. 380H) dari titik penerapan, baqa\u2019 selalu menyertai kefanaan. Ini karena ketika dalam kefanaan, setiap tindakan sufi diatur dan ada dalam pengawasan Allah SWT.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam kasus ini, al-Junayd (w. 279H), menggambarkan mereka yang telah mencapai maqam fana\u2019 tidak akan dikembalikan ke sifat mazmumahnya. Ini disebabkan oleh fokus kesadaran ingatan kepada Allah SWT menjadikan berbagai sifat tercela terkikis dari hati seorang sufi. Adapun maksud maqam baqa\u2019 yang mengiringi fana\u2019 adalah kondisi sufi yang berada dalam keridhaan Allah SWT dan setiap perbuatan sufi bukan lagi untuk kepentingan dirinya semata-mata malah mengutamakan Allah SWT dalam setiap tingkah dan perbuatannya.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/products\/tasawuf-dan-tarekat-studi-pemikiran-dan-pengalaman-sufi?utm_source=bestseller&amp;utm_medium=bestsellerbuku&amp;utm_campaign=seo&amp;utm_content=BestSellerRekomendasi\"><img loading=\"lazy\" class=\"aligncenter\" src=\"https:\/\/ebooks.gramedia.com\/ebook-covers\/47338\/thumb_image_normal\/ID_TTSPPS2019MTH04.jpg\" width=\"247\" height=\"381\" \/><\/a><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/products\/tasawuf-dan-tarekat-studi-pemikiran-dan-pengalaman-sufi?utm_source=bestseller&amp;utm_medium=bestsellerbuku&amp;utm_campaign=seo&amp;utm_content=BestSellerRekomendasi\"><img loading=\"lazy\" class=\"alignnone size-full wp-image-57150 aligncenter\" src=\"https:\/\/master-sellers.gramedia.com\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/button-1_RR-5.png\" alt=\"\" width=\"182\" height=\"52\" srcset=\"https:\/\/cdnwpseller.gramedia.net\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/14111059\/button-1_RR-5.png 182w, https:\/\/cdnwpseller.gramedia.net\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/14111059\/button-1_RR-5-180x52.png 180w\" sizes=\"(max-width: 182px) 100vw, 182px\" \/><\/a><\/p>\n<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_17 counter-hierarchy counter-decimal ez-toc-grey\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" style=\"display: none;\"><i class=\"ez-toc-glyphicon ez-toc-icon-toggle\"><\/i><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class=\"ez-toc-list ez-toc-list-level-1\"><li class=\"ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2\"><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/arti-dan-makna-fana\/#Pengertian_dan_Arti_Fana\" title=\"Pengertian dan Arti Fana\">Pengertian dan Arti Fana<\/a><\/li><li class=\"ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2\"><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/arti-dan-makna-fana\/#Arti_dan_Makna_Fana_Menurut_Pandangan_Islam\" title=\"Arti dan Makna Fana Menurut Pandangan Islam\">Arti dan Makna Fana Menurut Pandangan Islam<\/a><\/li><li class=\"ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2\"><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/arti-dan-makna-fana\/#Fana_dari_Perspektif_Tokoh_Sufi_yang_Muktabar\" title=\"Fana\u2019 dari Perspektif Tokoh Sufi yang Muktabar\">Fana\u2019 dari Perspektif Tokoh Sufi yang Muktabar<\/a><\/li><li class=\"ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2\"><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/arti-dan-makna-fana\/#Fana_dari_Perspektif_Tokoh_Sufi_Nusantara\" title=\"Fana\u2019 dari Perspektif Tokoh Sufi Nusantara\">Fana\u2019 dari Perspektif Tokoh Sufi Nusantara<\/a><\/li><li class=\"ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2\"><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/arti-dan-makna-fana\/#Konsep_Fana_Karya_Sheikh_Syekh_Hamzah_Fansuri_Asrar_al-Arifin\" title=\"Konsep Fana\u2019 Karya Sheikh Syekh Hamzah Fansuri: Asrar al-\u2018Arifin\">Konsep Fana\u2019 Karya Sheikh Syekh Hamzah Fansuri: Asrar al-\u2018Arifin<\/a><\/li><li class=\"ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2\"><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-6\" href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/arti-dan-makna-fana\/#Rekomendasi_Buku_Artikel_Terkait\" title=\"Rekomendasi Buku &amp; Artikel Terkait\">Rekomendasi Buku &amp; Artikel Terkait<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pengertian_dan_Arti_Fana\"><\/span>Pengertian dan Arti Fana<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">Fana&#8217; secara bahasa berarti lenyap, hancur, sirna, atau hilang. Istilah fana&#8217; muncul dalam kajian tasawuf di abad III Hijriah. Sufi yang pertama kali berbicara tentang kefanaan adalah Abu Yasid Al-Bustami. Istilah fana&#8217; muncul bukan hanya karena adanya perkataan fana&#8217; dalam ucapan Abu Yasid, melainkan juga karena adanya syatahat (ungkapan-ungkapan aneh) yang muncul dari sejumlah sufi, atau karena adanya tingkah laku dan keadaan yang diperlihatkan oleh mereka.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Al-Qusyayri, penulis tasawuf abad kelima Hijriah menjelaskan bahwa kalangan tasawuf mengisyaratakan fana&#8217; itu kepada gugur atau hilangnya sifat-sifat tercela dan mengisyaratkan baqa&#8217; (kekekalan) kepada munculnya sifat-sifat terpuji. Menurutnya, seorang manusia tidak bisa lepas dari salah satu kategori sifat-sifat tersebut, maka berarti ia jauh dari sifat-sifat tersebut dengan kata lain; sifat-sifat tercela itu telah lenyap dari dirinya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sufi yang terpesona melihat keindahan Tuhan, dia tidak lagi menyadari apa saja selain Tuhan. Dalam keadaan demikian, sufi tersebut dikatakan fana\u2019 dari segenap alam, termasuk dirinya sendiri. Dirinya dan alam semesta ini tentu saja tetap ada, tetapi sudah fana\u2019 (lenyap) dari kesadaran sufi tadi, yang ada hanyalah kesadaran keberadaan Tuhan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut buku yang bertajuk <em>25 Kisah Pilihan Tokoh Sufi Dunia<\/em> karya Siti Nur Aidah dan Tim Penerbit KBM Indonesia, fana&#8217; berbeda dengan <em>al-fasad<\/em> atau rusak. Arti fana&#8217; lebih merujuk kepada tidak nampaknya sesuatu, sedangkan rusak berarti adanya perubahan sesuatu kepada sesuatu yang lain.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sementara itu, para ahli sufi berpendapat jika fana&#8217; memiliki banyak pengertian. Misalnya diartikan sebagai keadaan moral yang luhur atau sirnanya sifat-sifat yang tercela, sehingga dapat dipahami bahwa arti fana&#8217; menurut kalangan sufi adalah hilangnya sifat-sifat yang tercela dan yang nampak hanya sifat-sifat terpuji.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hilangnya keinginan yang bersifat duniawi dan bergantinya sifat-sifat kemanusiaan dengan sifat-sifat ketuhanan. Pendapat lainnya menyebut fana&#8217; sebagai penghancuran diri (<em>fana&#8217; al-nafs<\/em>), yaitu perasaan atau kesadaran tentang adanya tubuh kasar manusia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sufi Abu Yazid al-Bustami juga ikut berpendapat mengenai pengertian fana&#8217;. Fana&#8217; berarti hilangnya kesadaran akan eksistensi diri pribadi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Sehingga tidak lagi merasakan kehadiran tubuh jasmaniahnya sebagai marwisia, kesadaran menyatu dalam iradah Tuhan tetapi bukan dalam wujud Tuhan,&#8221; tulis Siti Nur Aidah dalam bukunya.<br \/>\n<em>Arti Fana dalam Islam.<\/em><\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Arti_dan_Makna_Fana_Menurut_Pandangan_Islam\"><\/span>Arti dan Makna Fana Menurut Pandangan Islam<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">Fana&#8217; merupakan salah satu sifat yang sangat mustahil dimiliki oleh Allah SWT. Fana&#8217; artinya lenyap atau rusak dalam Islam. Semua makhluk yang ada di alam semesta ini akan mengalami kerusakan dan kebinasaan. Namun, hanya Allah SWT satu-satunya Sang Maha Pencipta yang tidak akan lenyap. Tentu tidak dapat diterima akal sehat apabila Allah SWT yang mengendalikan seluruh alam semesta memiliki sifat fana&#8217; (lenyap).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bukti bahwa Allah SWT mustahil memiliki sifat fana&#8217; termaktub dalam firman Allah SWT dalam Q.S. Ar Rahman ayat 26-27 berbunyi:<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Artinya: &#8220;Semua yang ada di bumi itu akan binasa, tetapi wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan tetap kekal&#8221; (Q.S. Ar Rahman: 26-27).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Melansir dari buku<em> Akidah Akhlak<\/em> oleh Taufik Yusmansyah, Allah SWT Yang Maha Pencipta memiliki sifat wajib baqa&#8217;, lawan kata dari sifat fana&#8217;. Sifat baqa&#8217; mengandung arti kekal, artinya Allah SWT yang menciptakan alam beserta isinya memiliki sifat tetap, kekal, dan tidak berubah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebagaimana firman Allah dalam Q.S. Al Qasas ayat 88 berbunyi:<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Artinya: &#8220;Dan jangan (pula) engkau sembah tuhan yang selain Allah SWT. Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Segala sesuatu pasti binasa, kecuali Allah SWT. Segala keputusan menjadi wewenang-Nya dan hanya kepada-Nya kamu dikembalikan&#8221; (Q.S. Al Qasas: 28).<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/products\/sufisme-jawa-transformasi-tasawuf-islam-ke-mistik-jawa-1?utm_source=bestseller&amp;utm_medium=bestsellerbuku&amp;utm_campaign=seo&amp;utm_content=BestSellerRekomendasi\"><img loading=\"lazy\" class=\"aligncenter\" src=\"https:\/\/cdn.gramedia.com\/uploads\/items\/9786024812010_COVER_SUFISME_JAWA.jpg\" width=\"288\" height=\"431\" \/><\/a><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/products\/sufisme-jawa-transformasi-tasawuf-islam-ke-mistik-jawa-1?utm_source=bestseller&amp;utm_medium=bestsellerbuku&amp;utm_campaign=seo&amp;utm_content=BestSellerRekomendasi\"><img loading=\"lazy\" class=\"alignnone size-full wp-image-57150 aligncenter\" src=\"https:\/\/master-sellers.gramedia.com\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/button-1_RR-5.png\" alt=\"\" width=\"182\" height=\"52\" srcset=\"https:\/\/cdnwpseller.gramedia.net\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/14111059\/button-1_RR-5.png 182w, https:\/\/cdnwpseller.gramedia.net\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/14111059\/button-1_RR-5-180x52.png 180w\" sizes=\"(max-width: 182px) 100vw, 182px\" \/><\/a><\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Fana_dari_Perspektif_Tokoh_Sufi_yang_Muktabar\"><\/span>Fana\u2019 dari Perspektif Tokoh Sufi yang Muktabar<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">Merujuk kepada berbagai karya tasawuf, didapati bahwa kebanyakan dalam kalangan tokoh-tokoh sufi yang membicarakan tentang istilah konsep ini. Dalam menjelaskan definisi istilah fana\u2019, al-Ghazali berpendapat fana\u2019 merupakan <em>maqam<\/em> (tingkatan) terakhir yang dilalui oleh sufi dalam perjalanan mencapai ma\u2019rifah Allah SWT (mengenal Allah SWt).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kesempurnaan konsep ini hanya dapat dicapai apabila seseorang sufi yang fana\u2019 terhadap dirinya sendiri dan keadaan sekelilingnya hingga setiap sesuatu yang didengarnya hanyalah Allah SWT, dengan Allah SWT (<em>billahi<\/em>), kepada Allah (<em>fillahi<\/em>), dan dari Allah (<em>minallahi<\/em>).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam hal ini, al-Qushayri turut menjelaskan bahawa fana\u2019 ialah hilang sifat mazmumah yang ada dalam diri sufi dan digantikan dengan sifat-sifat mahmudah. Dalam hal ini, dia telah membagi konsep fana\u2019 menjadi tiga bagian. Pertama, keadaan sufi yang fana\u2019 dari sifat-sifat tercela dan diganti dengan sifat-sifat terpuji. Kedua, fana\u2019 kesadaran ingatan sufi terhadap diri sendiri dan diganti dengan tumpuan ingatan yang tinggi kepada Allah SWT. Ketiga, fana\u2019 dari perbuatan, akhlak, keadaan sekeliling, dan segala sesuatu yang berlaku di sekitarnya tiada dalam tumpuan ingatan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut al-Kalabazi, sifat fana\u2019 akan selalu diiringi oleh baqa\u2019. Setiap perbuatan orang yang berada dalam keadaan fana\u2019 diatur dan dikuasai oleh Allah SWT. Hal ini dikarenakan ketika berada dalam keadaan tersebut, sufi tidak dapat membedakan setiap perbuatan dan tindakan mereka disebabkan oleh seluruh tumpuan ingatan serta kesadaran hatinya yang tinggi hanya tertumpu kepada Allah SWT hingga keadaan sekeliling tiada dalam ingatannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selain itu, menurut al-Junayd (w. 298), doktrin fana\u2019 boleh dikaitkan dengan istilah <em>tajrid <\/em>(penyingkiran segala sesuatu yang lain hingga apa yang nampak pada pandangan mata hati ialah Allah SWT). Apabila telah tersingkap pandangan mata hati, sesuatu yang terlihat hanya kekuasaan, keagungan dan kewujudan bukti kesempurnaan Allah SWT. Keadaan ini menyebabkan orang yang melaluinya akan merasakan bahwa dia seolah-olah baru dilahirkan. Walau bagaimanapun, &#8220;hijab&#8221; ini hanya akan tersingkap melalui <em>al-mujahadah<\/em>.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ibn al-A\u2019rabi (w. 341 H) dalam karya Abdul Majid Khatib, telah menjelaskan bahwa perbuatan sufi adalah perbuatan Allah SWT dan perbuatan tersebut digambarkan seumpama cermin. Contohnya di dalam Al-Quran surah Al-Baqarah ayat ke-260, Allah SWT meminta Nabi Ibrahim As memotong burung kepada empat bagian dan meletakkannya di atas bukit yang berbeda. Apabila Ibrahim memanggilnya, burung tersebut datang kepadanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jika dilihat dari mata kasar, akan nampak bahwa perbuatan tersebut telah dilakukan oleh Nabi Ibrahim. Namun, hakikat di balik kejadian tersebut adalah perbuatan milik Allah SWT. Dalam situasi ini dapat dipahami bahwa setiap perbuatan yang terhasil dari makhluk akan fana\u2019 dari pandangan sufi karena dia berada dalam keadaan baqa\u2019 dalam ingatan bahwa setiap yang berlaku adalah perbuatan Allah SWT.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selain itu, menurut tokoh sufi abad ke-20 M, Badiuzzaman Said al-Nursi (w. 1960 M) fana&#8217; ialah hilang kesadaran ingatan terhadap keadaan sekeliling. Konsep fana\u2019 menurut pandangannya bukan hanya tertumpu terhadap Allah SWT semata-mata. Namun, lebih bersifat komprehensif, sebagaimana yang telah dinukilkan oleh Jamal al-Din al-Afghani (tokoh sufi abad ke-19): Fana\u2019 pada ciptaan Allah SWT ialah dengan mempelajari serta meneliti jalan-jalan kebahagiaan dan kesejahteraan hidup di dunia maupun akhirat. Selain itu, menurut Abu Yazid, untuk mencapai ma\u2019rifah Allah SWT, seorang sufi mesti melenyapkan sifat yang menjadi kebiasaan manusia dan menghadirkan baqa\u2019 rasa ingat kepada Allah SWT.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Berdasarkan berbagai pengertian di atas, dapat dirumuskan bahwa konsep fana\u2019 merangkum beberapa elemen. Salah satu di antaranya ialah kesadaran ingatan yang tinggi hanya tertumpu kepada Allah SWT, hilang sifat <em>mazmumah<\/em> yang ada dalam diri dan diganti dengan sifat <em>mahmudah<\/em> dan tumpul perhatian ingatan terhadap perbuatan hamba karena kuat kesadaran ingatan terhadap <em>tadbir<\/em> perbuatan Allah SWT.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Fana_dari_Perspektif_Tokoh_Sufi_Nusantara\"><\/span>Fana\u2019 dari Perspektif Tokoh Sufi Nusantara<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kemunculan aliran tarekat di Nusantara telah dibawa masuk oleh para pedagang, khususnya dari Timur Tengah. Salah satu di antara tokoh sufi terawal yang dikatakan banyak memengaruhi corak dalam perkembangan tarekat di Nusantara ialah al-Ghazali (w. 505 H). Hal ini karena dalam banyak keadaan tokoh-tokoh sufi Nusantara seperti Sheikh Abdul Samad al-Falimbani, Sheikh Muhammad Nafis12, Muhammad Arsyad al-Banjari mempunyai pandangan yang sama dengannya, khususnya dalam isu memberi penjelasan terhadap konsep fana\u2019.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut Sayyid Abdul Rahman dalam karyanya berjudul <em>Ma\u2019arij al-Lahfan, maqam<\/em> fana\u2019 hanya dapat dicapai apabila hati telah berhasil dibersihkan dari semua sifat <em>mazmumah<\/em> dan diganti dengan sifat <em>mahmudah<\/em>. Hanya dengan cara ini sufi mampu untuk mencapai tauhid yang hakiki. Maksud tauhid hakiki dalam konteks perbincangan ini merujuk kepada konsep fana\u2019 dalam disiplin ilmu tasawuf.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selain itu, Sheikh Abdul Samad al-Falimbani dalam <em>Kitab Sairus Salikin<\/em>, berpendapat bahwa dalam tarekat sufi, konsep fana\u2019 dapat dibagikan kepada dua <em>maqam<\/em>. Pertama, <em>maqam<\/em> orang yang mencapai <em>maqam nafs al-mulhamah<\/em>, yaitu keadaan hati orang yang telah melalui pengalaman hilang kesadaran ingatan dan penglihatan terhadap semua yang ada di sekelilingnya. Hal ini karena seluruh tumpuan hanya terfokus terhadap perbuatan Allah SWT.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kedua, <em>maqam nafs al-mutma\u2019innah<\/em> atau dikenali juga dengan <em>maqam ta\u2019ayyun<\/em> dan <em>maqam wadah <\/em>(keadaan hati orang yang telah fana\u2019 terhadap semua zat dan sifat-sifat Allah SWT). Pengertian fana\u2019 dalam <em>maqam<\/em> ini merujuk kepada tumpuan kesadaran hati sufi terhadap ilmu, sifat-sifat Allah SWT yang maha kekal.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Lebih lanjut, al-Falimbani menambahkan jika semua <em>jisim<\/em> dalam <em>maqam <\/em>ini yang mempunyai sifat-sifat tertentu yang ada di dunia ini tidak lagi dilihat sebagai hak milik <em>jisim-jisim<\/em> tersebut yang menyandangnya. Hal ini karena dalam pandangan sufi sifat-sifat ini adalah milik Allah SWT dan Dia yang menyandangnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Berdasarkan pandangan tokoh-tokoh sufi Nusantara di atas, didapati konsep fana\u2019 merupakan suatu pengalaman kerohanian yang menumpukan sepenuh kesadaran ingatan terhadap Allah SWT semata-mata yang meliputi zat, sifat, dan <em>af\u2019al<\/em>-Nya. Namun, setelah sufi sadar dari pengalaman fana\u2019, tahap kesadarannya tidak sama seperti sebelum mengalami fana\u2019 karena sifat yang menjadi kebiasaan bagi manusia biasa telah sirna dari hati sanubarinya. Keadaan ini dikenali dengan <em>maqam<\/em> baqa\u2019 dalam kalangan tokoh-tokoh sufi.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/products\/sufisme-dakwah-kontemporer-mf-gulen?utm_source=bestseller&amp;utm_medium=bestsellerbuku&amp;utm_campaign=seo&amp;utm_content=BestSellerRekomendasi\"><img loading=\"lazy\" class=\"aligncenter\" src=\"https:\/\/ebooks.gramedia.com\/ebook-covers\/69912\/thumb_image_normal\/BLK_SDKMG2022861757.jpg\" width=\"248\" height=\"352\" \/><\/a><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/products\/sufisme-dakwah-kontemporer-mf-gulen?utm_source=bestseller&amp;utm_medium=bestsellerbuku&amp;utm_campaign=seo&amp;utm_content=BestSellerRekomendasi\"><img loading=\"lazy\" class=\"alignnone size-full wp-image-57150 aligncenter\" src=\"https:\/\/master-sellers.gramedia.com\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/button-1_RR-5.png\" alt=\"\" width=\"182\" height=\"52\" srcset=\"https:\/\/cdnwpseller.gramedia.net\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/14111059\/button-1_RR-5.png 182w, https:\/\/cdnwpseller.gramedia.net\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/14111059\/button-1_RR-5-180x52.png 180w\" sizes=\"(max-width: 182px) 100vw, 182px\" \/><\/a><\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Konsep_Fana_Karya_Sheikh_Syekh_Hamzah_Fansuri_Asrar_al-Arifin\"><\/span>Konsep Fana\u2019 Karya Sheikh Syekh Hamzah Fansuri: Asrar al-\u2018Arifin<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">Belakangan ini timbul pandangan negatif terhadap konsep martabat tujuh karena sering dikaitkan dengan menyeleweng dan sesat disebabkan oleh pemahaman literasi yang tersasar dari maksud pengarang. Namun, hakikatnya konsep ini telah lama wujud dalam pemikiran tokoh-tokoh sufi Nusantara, yaitu sekitar abad ke-17 M dan 18 M.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tokoh sufi Nusantara yang mendokong konsep ini ialah Hamzah al-Fansuri (abad ke-17 M), Shams al-Din al-Sumatrani (abad ke-17 M), Nuruddin ar-Raniri (abad ke-17 M), Abd al-Rauf al-Singkili (abad ke-17 M), Yusuf al-Makasari (abad ke-17), Abd Samad al-Falimbani (abad ke-17) dan Muhammad Nafis al-Banjari (abad ke-17).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Secara umum, martabat tujuh didefinisikan sebagai suatu keadaan ketika Allah SWT menampakkan kedudukan kesempurnaan diri-Nya melalui penciptaan manusia dan alam semesta melalui tujuh tingkatan. Sementara itu, dalam kitab <em>Asrar Al-\u2018Arifin<\/em>, Syekh Hamzah Fansuri membincangkan isu ini secara terperinci. Menurut Mohd Zain, konsep martabat tujuh dari kaca mata Syekh Hamzah Fansuri bermaksud setiap makhluk yang wujud dalam alam ini lahir dari hakikat Allah SWT Yang Maha Esa yang tidak dapat digambarkan oleh akal pikiran, pancaindera, dan khayalan manusia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Konsep ini telah dipraktikkan oleh tokoh sufi Nusantara dalam menjelaskan isu yang berkaitan dengan kewujudan Allah SWT secara mutlak melalui tujuh peringkat, yaitu <em>ahadiyyah<\/em> (keadaan zat Allah SWT Yang Maha Esa), <em>wahdah<\/em> (keadaan sifat yang memiliki keesaan), <em>wahidiyyah<\/em> (keadaan nama-nama Allah yang meliputi hakikat realita keesaan-Nya), dan alam arwah (hakikat keadaan roh manusia, binatang, dan tumbuh-tumbuhan), alam <em>mithal<\/em> (pemisah antara alam arwah dan <em>jisim<\/em>), alam <em>ajsam<\/em> (alam <em>jisim<\/em> atau benda), dan alam insan (alam manusia).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Secara umum, Allah SWT merupakan pencipta setiap makhluk dan tanpa-Nya tidak ada kewujudan di langit dan bumi. Tujuan ulama sufi Nusantara mengetengahkan konsep ini adalah untuk membawa masyarakat di Nusantara mengesakan Allah SWT (tauhid Allah) dan alam semesta.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Melalui konsep yang diketengahkan oleh tokoh-tokoh sufi silam ini, masyarakat dapat memahami dan mengetahui bahawa kewujudan Allah SWT secara mutlak bermaksud keterbatasan Allah SWT terhadap sesuatu tidak mempunyai had, sempadan, suara, bentuk, huruf, jirim, dan jisim.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Martabat tujuh yang dikenal juga dengan istilah <em>tajalli<\/em> yang bermaksud tersingkap rahasia keagungan Allah SWT kepada manusia. Keadaan ini berlaku apabila seseorang sufi mengalami keadaan fana\u2019 dengan memfokuskan seluruh tumpuan ingatan dan kesedaran hanya kepada Allah SWT hingga kesedaran kepada keadaan sekeliling menjadi tumpul. Hal ini karena pada peringkat <em>ahadiyyah<\/em>, sufi akan mensucikan dirinya dari perkara-perkara yang menghalangnya untuk menghampirkan diri kepada Alalh SWT.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam hal ini, al-Kalabazi telah menjelaskan bahawa konsep <em>tajalli<\/em> dapat dicapai dengan memerhatikan keadaan alam ini diciptakan sebagai suatu cerminan atau jambatan bagi makhluk. Walau bagaimanapun, semuanya bukan bergantung atas daya dan usaha manusia semata, tetapi dengan anugerah dari Allah SWT dengan keagungan dan kekuasaan ciptaan-Nya. Alam dalam konteks <em>tajalli<\/em> mempunyai empat tingkatan, yaitu alam ilahi (zat Allah SWT yang mutlak), alam jabarut (alam roh), alam malakut (alam malaikat), dan alam nasut (alam makhluk).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selain itu, dalam karya ini juga, Syekh Hamzah Fansuri telah menjelaskan perkataan <em>wusul ila Allah<\/em> yang bermaksud sufi yang sampai kepada Allah SWT dengan arti kata sampai dalam mengenal hakikat Allah SWT. Dalam hal ini, akan timbul perasaan pengakuan bahawa tidak ada yang mempunyai sifat keagungan dan kewujudan selain dari Allah SWT.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perkataan ini juga mempunyai perkaitan yang amat rapat dengan konsep <em>muraqabah, <\/em>yaitu dengan mengekalkan pengetahuan bahwa Allah SWT melihat setiap kelakuan hambanya. Kesannya timbul keadaan sufi yang memfanakan perbuatan, sifat dan zat-Nya karena memberi seluruh tumpuan ingatannya hanya kepada Allah SWT semata-mata.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Rekomendasi_Buku_Artikel_Terkait\"><\/span>Rekomendasi Buku &amp; Artikel Terkait<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n[vc_row][vc_column width=\"1\/2\"][vc_tta_accordion][vc_tta_section title=\"Kategori Ilmu Berkaitan Agama Islam\" tab_id=\"1609657986694-ec9fcf86-8e01\"][vc_column_text]\r\n<ul>\r\n \t<li><a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/buku-sejarah-agama-islam-peradaban-islam\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Buku Sejarah Agama Islam &amp; Peradaban Islam<\/a><\/li>\r\n \t<li><a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/buku-islami\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Buku Islami Best Seller Terbaru<\/a><\/li>\r\n \t<li><a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/agama-islam\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Best Seller Buku Agama Islam<\/a><\/li>\r\n \t<li><a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/buku-surat-juz-amma-anak\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Best Seller Buku Surat Juz Amma Anak<\/a><\/li>\r\n \t<li><a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/buku-tafsir-ibnu-katsir\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Best Seller Buku Tafsir Ibnu Katsir<\/a><\/li>\r\n \t<li><a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/rekomendasi-buku-tuntunan-shalat-terbaru\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Rekomendasi Buku Tuntunan Shalat<\/a><\/li>\r\n<\/ul>\r\n[\/vc_column_text][\/vc_tta_section][\/vc_tta_accordion][\/vc_column][vc_column width=\"1\/2\"][vc_tta_accordion][vc_tta_section title=\"Materi Agama Islam\" tab_id=\"1609656944148-f362d048-3421\"][vc_column_text]\r\n<ul>\r\n\t<li><a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/aliran-mutazilah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Aliran Mu\u2019tazilah<\/a><\/li>\r\n\t<li><a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/berpikir-kritis-menurut-islam\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Berpikir Kritis Menurut Islam<\/a><\/li>\r\n\t<li><a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/cara-mandi-wajib\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Cara Mandi Wajib<\/a><\/li>\t\r\n\t<li><a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/cara-menjadi-seorang-ihsan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Cara Menjadi Seorang Ihsan<\/a><\/li>\r\n\t<li><a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/contoh-tawakal\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Contoh Tawakal<\/a><\/li>\t\t\r\n\t<li><a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/doa-kelahiran-anak\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Doa Kelahiran Anak<\/a><\/li>\r\n\t<li><a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/doa-akhir-tahun\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Doa Akhir Tahun Islam<\/a><\/li>\r\n    <li><a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/doa-setelah-adzan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Doa Setelah Adzan<\/a><\/li>\r\n\t<li><a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/dosa-besar-istri-terhadap-suami\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Dosa Besar Istri Terhadap Suami<\/a><\/li>\r\n \t<li><a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/fihi-ma-fihi-quotes-bahasa-arab\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Fihi Ma Fihi<\/a><\/li>\t\r\n\t<li><a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/hasad\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Hasad<\/a><\/li>\r\n\t<li><a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/idul-adha\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Idul Adha<\/a><\/li>\r\n  \t<li><a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/literasi\/pengertian-iman-kepada-malaikat-allah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Iman Kepada Malaikat Allah<\/a><\/li>\r\n    <li><a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/literasi\/kerajaan-islam-pertama-di-indonesia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kerajaan Islam Pertama di Indonesia<\/a><\/li>\r\n \t<li><a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/literasi\/kerajaan-islam-di-indonesia-nusantara\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kerajaan Islam di Indonesia<\/a><\/li>\r\n\t<li><a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/kekuatan-doa-ibu-untuk-mewujudkan-hal-hal-baik\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kekuatan Doa Ibu<\/a><\/li>\r\n\t<li><a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/literasi\/keutamaan-dua-ayat-terakhir-dari-surat-al-baqarah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Keutamaan Dua Ayat Terakhir dari Surat Al-Baqarah<\/a><\/li>\r\n\t<li><a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/kisah-inspirasi-islami\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kisah Inspirasi Islami<\/a><\/li>\r\n\t<li><a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/literasi\/doa-sehari-hari\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kumpulan Doa Sehari-Hari<\/a><\/li>\r\n\t<li><a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/macam-sedekah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Macam Macam Sedekah<\/a><\/li>\r\n\t<li><a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/mahar-pernikahan-dalam-islam\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Mahar Pernikahan dalam Islam<\/a><\/li>\r\n\t<li><a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/ketahui-niat-puasa-bayar-hutang-ramadhan-jangan-sampai-tidak-dibayar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Niat Puasa Bayar Hutang Ramadhan<\/a><\/li>\r\n \t<li><a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/peninggalan-sejarah-islam-di-indonesia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Peninggalan Sejarah Islam di Indonesia dan Fotonya<\/a><\/li>\r\n \t<li><a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/toleransi-dalam-islam\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Pengertian Toleransi Dalam Islam<\/a><\/li>\r\n \t<li><a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/rukun-iman-dan-rukun-islam\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Penjelasan Rukun Iman dan Rukun Islam Lengkap<\/a><\/li>\r\n\t<li><a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/literasi\/haji\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Rukun haji, Pengertian Haji, dan Hukum Haji<\/a><\/li>\t\r\n\t<li><a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/pesantren-kilat-adalah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Pesantren Kilat<\/a><\/li>\r\n\t<li><a href=\"https:\/\/gramedia.com\/best-seller\/kata-permohonan-maaf-menjelang-nisfu-syaban\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Permohonan Maaf Menjelang Nisfu Syaban<\/a><\/li>\r\n\t<li><a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/literasi\/prinsip-dan-praktik-ekonomi-islam\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Prinsip dan Praktik Ekonomi Islam<\/a><\/li>\r\n \t<li><a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/rukun-jual-beli-dalam-islam\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Rukun Jual Beli Dalam Islam dan Syaratnya<\/a><\/li>\r\n  \t<li><a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/rukun-shalat\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Rukun Shalat<\/a><\/li>\r\n \t<li><a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/cerita-anak-islami\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Rekomendasi Cerita Anak Islami Untuk Menjadi Teladan Yang Baik<\/a><\/li>\r\n\t<li><a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/sahabat-nabi-nama-muhammad\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Sahabat Nabi Muhammad<\/a><\/li>\r\n \t<li><a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/literasi\/sejarah-pemikiran-ekonomi-islam\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam<\/a><\/li>\r\n \t<li><a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/literasi\/sejarah-kerajaan-islam-di-sumatera\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Sejarah Kerajaan Islam di Sumatera<\/a><\/li>\r\n   \t<li><a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/literasi\/sejarah-masuknya-islam-ke-indonesia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Sejarah Masuknya Islam Ke Indonesia<\/a><\/li>\r\n   \t<li><a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/literasi\/sejarah-perkembangan-islam-di-indonesia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia<\/a><\/li>\r\n    <li><a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/literasi\/sejarah-kerajaan-mataram-islam\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Sejarah Kerajaan Mataram Islam<\/a><\/li>\r\n \t<li><a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/literasi\/sistem-ekonomi-islam\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Sistem Ekonomi Islam<\/a><\/li>\r\n \t<li><a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/sujud-sahwi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Sujud Sahwi<\/a><\/li>\r\n\t<li><a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/takabur-adalah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Takabur<\/a><\/li>\r\n\t<li><a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/tanda-tanda-kiamat-kecil\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Tanda-Tanda Kiamat Kecil<\/a><\/li>\r\n \t<li><a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/tokoh-ilmuwan-islam-muslim\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Tokoh Ilmuwan Islam (Muslim)<\/a><\/li>\r\n\t<li><a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/minimal-umur-hewan-kurban\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Umur Hewan Kurban<\/a><\/li>\t\r\n    <li><a href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/literasi\/zakat-fitrah-dan-zakat-mal\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Zakat Fitrah dan Zakat Mal<\/a><\/li>\r\n<\/ul>\r\n[\/vc_column_text][\/vc_tta_section][\/vc_tta_accordion][\/vc_column][\/vc_row]\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Arti dan Makna Fana &#8211; Fana&#8217; menurut disiplin ilmu tasawuf adalah lenyap dari sifat manusiawi yang terbelenggu dengan berbagai tuntutan syahwat dan hawa nafsu, hal keadaan tumpuan ingatan hati hanya tenggelam dalam menghayati sifat kesempurnaan dan keagungan Allah SWT. Hal demikian adalah karena fana merupakan kesadaran tingkat tinggi dan tumpuan ingatan yang jitu yang hanya [&hellip;] <a class=\"g1-link g1-link-more\" href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/arti-dan-makna-fana\/\">More<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":185533029,"featured_media":38935,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[1882],"tags":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v17.0 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Arti dan Makna Fana Pandangan Islam dan Perspektif Tokoh Sufi - Best Seller Gramedia<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Berikut ini adalah ulasan lengkap seputar Arti dan Makna Fana Pandangan Islam dan Perspektif Tokoh Sufi dari Gramedia. Disertai dengan rekomendasi buku terkait.\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/arti-dan-makna-fana\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Arti dan Makna Fana Pandangan Islam dan Perspektif Tokoh Sufi - Best Seller Gramedia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Berikut ini adalah ulasan lengkap seputar Arti dan Makna Fana Pandangan Islam dan Perspektif Tokoh Sufi dari Gramedia. Disertai dengan rekomendasi buku terkait.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/arti-dan-makna-fana\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Best Seller Gramedia\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2022-07-04T19:51:38+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2023-06-26T06:54:09+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/upload.wikimedia.org\/wikipedia\/commons\/8\/8a\/Waingapu.JPG\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:image\" content=\"https:\/\/upload.wikimedia.org\/wikipedia\/commons\/8\/8a\/Waingapu.JPG\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Yufi\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"12 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/#organization\",\"name\":\"Gramedia\",\"url\":\"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/\",\"sameAs\":[],\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/#logo\",\"inLanguage\":\"id-ID\",\"url\":\"https:\/\/cdnwpseller.gramedia.net\/wp-content\/uploads\/2021\/02\/18170603\/cropped-icon-Gramedia.com-logo-color.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/cdnwpseller.gramedia.net\/wp-content\/uploads\/2021\/02\/18170603\/cropped-icon-Gramedia.com-logo-color.png\",\"width\":512,\"height\":512,\"caption\":\"Gramedia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/#logo\"}},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/\",\"name\":\"Best Seller Gramedia\",\"description\":\"Inspiration Transformed\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id-ID\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/arti-dan-makna-fana\/#primaryimage\",\"inLanguage\":\"id-ID\",\"url\":\"https:\/\/upload.wikimedia.org\/wikipedia\/commons\/8\/8a\/Waingapu.JPG\",\"contentUrl\":\"https:\/\/upload.wikimedia.org\/wikipedia\/commons\/8\/8a\/Waingapu.JPG\",\"width\":\"1600\",\"height\":\"1200\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/arti-dan-makna-fana\/#webpage\",\"url\":\"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/arti-dan-makna-fana\/\",\"name\":\"Arti dan Makna Fana Pandangan Islam dan Perspektif Tokoh Sufi - Best Seller Gramedia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/arti-dan-makna-fana\/#primaryimage\"},\"datePublished\":\"2022-07-04T19:51:38+00:00\",\"dateModified\":\"2023-06-26T06:54:09+00:00\",\"description\":\"Berikut ini adalah ulasan lengkap seputar Arti dan Makna Fana Pandangan Islam dan Perspektif Tokoh Sufi dari Gramedia. Disertai dengan rekomendasi buku terkait.\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/arti-dan-makna-fana\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id-ID\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/arti-dan-makna-fana\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/arti-dan-makna-fana\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Arti dan Makna Fana Pandangan Islam dan Perspektif Tokoh Sufi\"}]},{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/arti-dan-makna-fana\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/arti-dan-makna-fana\/#webpage\"},\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/#\/schema\/person\/f9c34ccdb964466143b46444803940bd\"},\"headline\":\"Arti dan Makna Fana Pandangan Islam dan Perspektif Tokoh Sufi\",\"datePublished\":\"2022-07-04T19:51:38+00:00\",\"dateModified\":\"2023-06-26T06:54:09+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/arti-dan-makna-fana\/#webpage\"},\"wordCount\":2356,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/arti-dan-makna-fana\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/upload.wikimedia.org\/wikipedia\/commons\/8\/8a\/Waingapu.JPG\",\"articleSection\":[\"Buku Agama Islam\"],\"inLanguage\":\"id-ID\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/#\/schema\/person\/f9c34ccdb964466143b46444803940bd\",\"name\":\"Yufi\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/#personlogo\",\"inLanguage\":\"id-ID\",\"url\":\"https:\/\/cdnwpseller.gramedia.net\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/yufi-96x96.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/cdnwpseller.gramedia.net\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/yufi-96x96.jpg\",\"caption\":\"Yufi\"},\"description\":\"Saya biasa dipanggil dengan nama Yufi. Saya senang menulis karena dengan menulis wawasan saya bertambah. Tema yang saya sukai adalah tema agama Islam dan juga quotes. Kontak media sosial Instagram saya Yufi Cantika\",\"url\":\"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/author\/yufi\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Arti dan Makna Fana Pandangan Islam dan Perspektif Tokoh Sufi - Best Seller Gramedia","description":"Berikut ini adalah ulasan lengkap seputar Arti dan Makna Fana Pandangan Islam dan Perspektif Tokoh Sufi dari Gramedia. Disertai dengan rekomendasi buku terkait.","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/arti-dan-makna-fana\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Arti dan Makna Fana Pandangan Islam dan Perspektif Tokoh Sufi - Best Seller Gramedia","og_description":"Berikut ini adalah ulasan lengkap seputar Arti dan Makna Fana Pandangan Islam dan Perspektif Tokoh Sufi dari Gramedia. Disertai dengan rekomendasi buku terkait.","og_url":"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/arti-dan-makna-fana\/","og_site_name":"Best Seller Gramedia","article_published_time":"2022-07-04T19:51:38+00:00","article_modified_time":"2023-06-26T06:54:09+00:00","og_image":[{"url":"https:\/\/upload.wikimedia.org\/wikipedia\/commons\/8\/8a\/Waingapu.JPG"}],"twitter_card":"summary_large_image","twitter_image":"https:\/\/upload.wikimedia.org\/wikipedia\/commons\/8\/8a\/Waingapu.JPG","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"Yufi","Estimasi waktu membaca":"12 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/#organization","name":"Gramedia","url":"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/","sameAs":[],"logo":{"@type":"ImageObject","@id":"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/#logo","inLanguage":"id-ID","url":"https:\/\/cdnwpseller.gramedia.net\/wp-content\/uploads\/2021\/02\/18170603\/cropped-icon-Gramedia.com-logo-color.png","contentUrl":"https:\/\/cdnwpseller.gramedia.net\/wp-content\/uploads\/2021\/02\/18170603\/cropped-icon-Gramedia.com-logo-color.png","width":512,"height":512,"caption":"Gramedia"},"image":{"@id":"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/#logo"}},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/#website","url":"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/","name":"Best Seller Gramedia","description":"Inspiration Transformed","publisher":{"@id":"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"id-ID"},{"@type":"ImageObject","@id":"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/arti-dan-makna-fana\/#primaryimage","inLanguage":"id-ID","url":"https:\/\/upload.wikimedia.org\/wikipedia\/commons\/8\/8a\/Waingapu.JPG","contentUrl":"https:\/\/upload.wikimedia.org\/wikipedia\/commons\/8\/8a\/Waingapu.JPG","width":"1600","height":"1200"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/arti-dan-makna-fana\/#webpage","url":"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/arti-dan-makna-fana\/","name":"Arti dan Makna Fana Pandangan Islam dan Perspektif Tokoh Sufi - Best Seller Gramedia","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/arti-dan-makna-fana\/#primaryimage"},"datePublished":"2022-07-04T19:51:38+00:00","dateModified":"2023-06-26T06:54:09+00:00","description":"Berikut ini adalah ulasan lengkap seputar Arti dan Makna Fana Pandangan Islam dan Perspektif Tokoh Sufi dari Gramedia. Disertai dengan rekomendasi buku terkait.","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/arti-dan-makna-fana\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id-ID","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/arti-dan-makna-fana\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/arti-dan-makna-fana\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Arti dan Makna Fana Pandangan Islam dan Perspektif Tokoh Sufi"}]},{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/arti-dan-makna-fana\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/arti-dan-makna-fana\/#webpage"},"author":{"@id":"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/#\/schema\/person\/f9c34ccdb964466143b46444803940bd"},"headline":"Arti dan Makna Fana Pandangan Islam dan Perspektif Tokoh Sufi","datePublished":"2022-07-04T19:51:38+00:00","dateModified":"2023-06-26T06:54:09+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/arti-dan-makna-fana\/#webpage"},"wordCount":2356,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/arti-dan-makna-fana\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/upload.wikimedia.org\/wikipedia\/commons\/8\/8a\/Waingapu.JPG","articleSection":["Buku Agama Islam"],"inLanguage":"id-ID"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/#\/schema\/person\/f9c34ccdb964466143b46444803940bd","name":"Yufi","image":{"@type":"ImageObject","@id":"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/#personlogo","inLanguage":"id-ID","url":"https:\/\/cdnwpseller.gramedia.net\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/yufi-96x96.jpg","contentUrl":"https:\/\/cdnwpseller.gramedia.net\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/yufi-96x96.jpg","caption":"Yufi"},"description":"Saya biasa dipanggil dengan nama Yufi. Saya senang menulis karena dengan menulis wawasan saya bertambah. Tema yang saya sukai adalah tema agama Islam dan juga quotes. Kontak media sosial Instagram saya Yufi Cantika","url":"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/author\/yufi\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/38929"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/wp-json\/wp\/v2\/users\/185533029"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=38929"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/38929\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":57172,"href":"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/38929\/revisions\/57172"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/wp-json\/wp\/v2\/media\/38935"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=38929"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=38929"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.gramedia.com\/best-seller\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=38929"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}