| |
FRIDAYS WITH COELHO Ed:01
Oleh:
Paulo Coelho
FRIDAYS WITH PAULO COELHO
Para pencinta karya-karya Paulo Coelho, mulai bulan September ini kami akan memuat renungan dari Paulo Coelho setiap hari Jumat. Belum lama ini Paulo menyelesaikan perjalanan ziarah selama tiga bulan, napak tilas dari Perjalanan Menuju Santiago yang dilakukannya 20 tahun silam. Berbagai pengalaman dan renungannya dituangkan menjadi catatan perjalanan yang menarik. Selamat menikmati. Ed: 01 06/10/06 =================================================== DuaEd Puluh Tahun Kemudian
TANGGAL 27 Maret 2006 aku duduk di taman di León, memandangi sungai yang mengalir tenang. Di sampingku, Christina---istriku---membaca buku. Musim semi baru saja mulai di Eropa, jadi kami tak perlu lagi mengenakan pakaian musim dingin yang tebal. Kami sudah berhari-hari mengadakan perjalanan naik mobil, melewati tempat-tempat yang punya arti penting bagi kami (Christina pernah menempuh Jalan Menuju Santiago pada tahun 1990). Meski tidak terburu-buru, kami telah menempuh 500 kilometer dalam waktu tidak sampai seminggu. Air mineral. Kopi. Orang-orang yang berbicara, orang-orang yang mengobrol. Orang-orang yang juga minum kopi dan air mineral. Dan aku terkenang masa dua puluh tahun silam, pada suatu siang di bulan Juli atau Agustus 1986, kopi, air mineral, orang-orang mengobrol dan berjalan---hanya saja kali ini tempatnya adalah dataran yang membentang setelah Castrojeriz. Hari ulang tahunku sudah dekat; aku meninggalkan Saint Jean Pied-de-Port beberapa waktu yang lalu dan telah menempuh sekitar setengah perjalanan menuju Santiago de Compostela.
Kecepatan jalan: 20 kilometer sehari.
Di depanku terbentang lanskap yang membosankan, pemandu kami juga sedang minum kopi di bar yang seakan-akan muncul begitu saja entah dari mana. Aku menoleh ke belakang; lanskap yang sama membosankannya, satu-satunya perbedaan adalah pasir di belakang sana berbekas jejak-jejak sepatuku---tapi itu tidak akan bertahan lama, angin akan menyapu bersih jejak-jejak itu sebelum malam tiba.
Segalanya terasa tidak nyata bagiku.
Apa sebenarnya yang kulakukan di sini? Pertanyaan ini terus menghantuiku, meski beberapa minggu telah berlalu.
Aku mencari sebilah pedang. Aku akan melakukan ritual RAM, ordo kecil dalam Gereja Katolik yang tidak menyimpan rahasia atau misteri apa pun selain keinginan mencoba memahami bahasa simbolik dunia. Kupikir aku telah dibodohi, bahwa perjalanan spiritual ini sama sekali tidak masuk akal, tidak didasari logika, dan akan lebih baik kalau aku tetap di Brazil, mengurus segala sesuatu yang biasanya.
Aku meragukan ketulusanku sendiri dalam perjalanan ini, sebab sungguh sulit mencari Tuhan yang tidak pernah memperlihatkan Dirinya, berdoa pada waktu-waktu tertentu, menempuh jalanan-jalanan yang tidak dikenal, menuruti disiplin, menerima perintah-perintah yang terasa absurd.
Begitulah: Aku meragukan ketulusanku. Selama hari-hari perjalanan ini Petrus mengatakan jalan ini milik semua orang, orang-orang biasa, dan ini membuatku sangat kecewa. Kupikir segala susah payah ini akan membuatku mendapatkan tempat istimewa di antara segelintir orang terpilih yang akan bertemu dengan tokoh-tokoh panutan yang hebat di alam semesta. Kupikir akhirnya aku akan menemukan semua cerita itu benar adanya, tentang pemerintahan rahasia para bijak di Tibet, ramuan-ramuan sihir untuk membangkitkan rasa cinta, serta ritual-ritual yang bisa membukakan gerbang-gerbang Surga.
Tapi yang diceritakan Petrus padaku justru sebaliknya: tidak ada orang terpilih. Kita semua orang terpilih, kalau kita tidak mempertanyakan “Apa sebenarnya yang kulakukan di sini?” Kalau kita memutuskan melakukan aktivitas yang memenuhi hati kita dengan kegembiraan. Bekerja dengan penuh antusias, cinta yang mengubah, pilihan yang menuntun kita kepada Tuhan, di sanalah kita akan menemukan gerbang menuju Surga.
Dan antusiasme inilah yang menghubungkan kita dengan Roh Kudus, bukan ratusan dan ribuan bacaan dari kitab-kitab kuno. Keinginan untuk percaya bahwa hidup ini adalah keajaiban yang memicu rangkaian keajaiban lain, bukannya “ritual-ritual rahasia”, atau “kelompok-kelompok tertentu”. Singkatnya, manusia memutuskan sendiri untuk mengikuti takdirnya, itulah yang menunjukkan ke”manusia”annya, bukan teori-teori yang dikembangkannya seputar misteri eksistensi. Dan di sinilah aku. Setengah perjalanan lebih sedikit menuju Santiago de Compostela. Kalau segalanya sesederhana yang dikatakan Petrus, lalu untuk apa semua petualangan tak berguna ini?
(bersambung minggu depan)
|
|