Full Text Search via Google
KEYWORD
 
Sabtu, 31 Juli 2010 Nonfiksi Fiksi dan Sastra Buku Anak-Anak Teens Buku Masak Halaman Utama
Pengarang Bestseller New Release Coming Soon Recommended Edutivity Member Registrasi
 
Wacana Lain
  Ketagihan dan Mengontrol Kreativitas
Anwar Holid
 
   
  Entrok: Sebuah Novel Multifaset
Prof. Dr. Apsanti Djokosujatno
 
   
  Memberdayakan Kaum Muda
T. Nugroho Angkasa S.Pd.
 
   
  Astaganaga Ala Tintin
Truly Rudiono
 
   
  Rahasia Menciptakan Lompatan Kuantum dalam Bisnis
Roni Yuzirman
 
   
  Meneladan Karakter Mulia
Nugroho Angkasa S.Pd.
 
   
  Yesusanitas dan Kristianitas dalam Sebuah Buku Apologetika
Sidik Nugroho
 
   
  Pendekar Bawel Terpanah Asmara
Triani Retno A.
 
   
  Catatan Masa Kecil Seorang Santri
Ahmadun Yosi Herfanda
 
   
  Memaknai Kembali Asal Usul Kesuksesan
Meicky Shoreamanis Panggabean
 
   
  Papua dan Resistensi Sastra Pinggiran
Bandung Mawardi
 
   
  Narasi Pilu Rakyat Papua
Ali Rif'an
 
   
  Potret Buram Kaum Perempuan Papua
Haya Aliya Zaki
 
   
  Tragedi Perempuan Papua
Bandung Mawardi
 
   
  Mamah, Curhat dong… Iya dong....
Ad3
 
   
  Sketsa Tragedi Tsunami di Mata Penulis Belanda
Haya Aliya Zaki
 
   
  Belajar Tango dengan Avi Basuki
M. Arman AZ
 
   
  Dari Kamar Jaga untuk Dunia yang Bising
Chusnato
 
   
  Menemui Ajal dengan Manis
Ciptanti Putri
 
   
  Cerita Sengsara Putri Cina
Ignatius Haryanto
 
   
  Seorang Janda di Pinggir Kerajaan
Anwar Holid
 
   
  Ocehan si Mbot: Gilanya Orang Kantoran
sinarbulan.multiply.com
 
   
  Horeluya: Kisah Keajaiban Bidadari
Jody
 
   
  Putri Cina (bagian pertama)
Wandi S. Brata
 
   
  Putri Cina (bagian dua)
Wandi S. Brata
 
   
  Bulan Jingga dalam Kepala (bagian pertama)
http://bukuygkubaca.blogspot.com
 
   
  Bulan Jingga dalam Kepala (bagian dua)
http://bukuygkubaca.blogspot.com
 
   
  Menghindari Dosa Besar Dalam Berpresentasi
Kori Suryani Hardi
 
   
  Puisi yang Memabukkan
Lan Fang
 
   
  Pullman, Agama, dan Dongeng Pascamodern
Trisno S Sutanto
 
   
  FRIDAYS WITH COELHO Ed:07
Paulo Coelho
 
   
  FRIDAYS WITH COELHO Ed:06 Part 2
Paulo Coelho
 
   
  FRIDAYS WITH COELHO Ed:06
Paulo Coelho
 
   
  FRIDAYS WITH COELHO Ed:05
Paulo Coelho
 
   
  FRIDAYS WITH COELHO Ed:04
PAULO COELHO
 
   
  FRIDAYS WITH COELHO ed:03
Paulo Coelho
 
   
  FRIDAYS WITH COELHO Ed:02
Paulo Coelho
 
   
  Kalau Napoleon bergaul dengan gadis ABG
H Tanzil
 
   
  Catatan Revolusi Seorang Perempuan Amerika
Achmad Sunjayadi
 
   
  Gadis Icarus
Endah Sulwesi
 
   
  Swendonesia
Andre Moller
 
   
  Jamal Penulis yang Berbahaya
H. Tanzil
 
   
  Yuni Jie designs inspiration
Kurniawan Hari, The Jakarta Post
 
   
  Balzac dan Penjahit Cilik dari Cina
Endah Sulwesi
 
   
  Kisah Cinta Unik Dewa-Dewi
Ferina Permatasari
 
   
  Rahasia Bulan
A. Junaidi, The Jakarta Post
 
   
  Gunung Brokeback
Endah Sulwesi
 
   
  Laki-Laki yang Salah
H Tanzil
 
   
  The Chronicles of Narnia : Keponakan Penyihir
http://perca.blogdrive.com
 
   
  Spiritualitas Coelho
F Dewi Ria Utari
 
   
  Membaca Energi dalam karya Isbedy Setiawan
Yanusa Nugroho
 
   
  Djenar confronts societal taboos, critics in first novel
A. Junaidi, The Jakarta Post
 
   
  Melihat Kisah dari Dua Sudut Berbeda
Anwar Holid
 
   
  Membaca Eka Kurniawan
www.sriti.com
 
   
  Dark Comedy tentang Realitas
www.sriti.com
 
   
  Hasrat dan Keuletan seorang Cina dalam Bumi yang Subur
http://perca.blogdrive.com
 
   
  Dongeng tikus yang jatuh cinta pada putri cantik
http://perca.blogdrive.com
 
   
  Kisah Pi - Membuat Orang Percaya Pada Tuhan
Anwar Holid-Eksponen komunitas Textour, Rumah Buku Bandung
 
   
  Momo - Michael Ende
http://perca.blogdrive.com/
 
   
  Life of Pi - Yann Martel
www.kupunyabuku.blogdrive.com
 
   
  Resensi Buku: Sunya
Donny Gahral Adian (Dosen Filsafat FIB-UI)
 
   
  Resensi Buku: Lelaki Terindah
Hesti Pratiwiafwiani
 
   
  Resensi Buku: Go Ask Alice
Fajar Riyanto
 
   
   
  WACANA  
     
  FRIDAYS WITH COELHO Ed:01
Oleh: Paulo Coelho

FRIDAYS WITH PAULO COELHO

Para pencinta karya-karya Paulo Coelho, mulai bulan September ini kami akan memuat renungan dari Paulo Coelho setiap hari Jumat. Belum lama ini Paulo menyelesaikan perjalanan ziarah selama tiga bulan, napak tilas dari Perjalanan Menuju Santiago yang dilakukannya 20 tahun silam. Berbagai pengalaman dan renungannya dituangkan menjadi catatan perjalanan yang menarik. Selamat menikmati.

Ed: 01 06/10/06
===================================================
DuaEd
Puluh Tahun Kemudian


TANGGAL 27 Maret 2006 aku duduk di taman di León, memandangi sungai yang mengalir tenang. Di sampingku, Christina---istriku---membaca buku. Musim semi baru saja mulai di Eropa, jadi kami tak perlu lagi mengenakan pakaian musim dingin yang tebal. Kami sudah berhari-hari mengadakan perjalanan naik mobil, melewati tempat-tempat yang punya arti penting bagi kami (Christina pernah menempuh Jalan Menuju Santiago pada tahun 1990). Meski tidak terburu-buru, kami telah menempuh 500 kilometer dalam waktu tidak sampai seminggu.

Air mineral. Kopi.

Orang-orang yang berbicara, orang-orang yang mengobrol.

Orang-orang yang juga minum kopi dan air mineral.

Dan aku terkenang masa dua puluh tahun silam, pada suatu siang di bulan Juli atau Agustus 1986, kopi, air mineral, orang-orang mengobrol dan berjalan---hanya saja kali ini tempatnya adalah dataran yang membentang setelah Castrojeriz. Hari ulang tahunku sudah dekat; aku meninggalkan Saint Jean Pied-de-Port beberapa waktu yang lalu dan telah menempuh sekitar setengah perjalanan menuju Santiago de Compostela.

Kecepatan jalan: 20 kilometer sehari.

Di depanku terbentang lanskap yang membosankan, pemandu kami juga sedang minum kopi di bar yang seakan-akan muncul begitu saja entah dari mana. Aku menoleh ke belakang; lanskap yang sama membosankannya, satu-satunya perbedaan adalah pasir di belakang sana berbekas jejak-jejak sepatuku---tapi itu tidak akan bertahan lama, angin akan menyapu bersih jejak-jejak itu sebelum malam tiba.

Segalanya terasa tidak nyata bagiku.

Apa sebenarnya yang kulakukan di sini? Pertanyaan ini terus menghantuiku, meski beberapa minggu telah berlalu.

Aku mencari sebilah pedang. Aku akan melakukan ritual RAM, ordo kecil dalam Gereja Katolik yang tidak menyimpan rahasia atau misteri apa pun selain keinginan mencoba memahami bahasa simbolik dunia. Kupikir aku telah dibodohi, bahwa perjalanan spiritual ini sama sekali tidak masuk akal, tidak didasari logika, dan akan lebih baik kalau aku tetap di Brazil, mengurus segala sesuatu yang biasanya.

Aku meragukan ketulusanku sendiri dalam perjalanan ini, sebab sungguh sulit mencari Tuhan yang tidak pernah memperlihatkan Dirinya, berdoa pada waktu-waktu tertentu, menempuh jalanan-jalanan yang tidak dikenal, menuruti disiplin, menerima perintah-perintah yang terasa absurd.

Begitulah: Aku meragukan ketulusanku. Selama hari-hari perjalanan ini Petrus mengatakan jalan ini milik semua orang, orang-orang biasa, dan ini membuatku sangat kecewa. Kupikir segala susah payah ini akan membuatku mendapatkan tempat istimewa di antara segelintir orang terpilih yang akan bertemu dengan tokoh-tokoh panutan yang hebat di alam semesta. Kupikir akhirnya aku akan menemukan semua cerita itu benar adanya, tentang pemerintahan rahasia para bijak di Tibet, ramuan-ramuan sihir untuk membangkitkan rasa cinta, serta ritual-ritual yang bisa membukakan gerbang-gerbang Surga.

Tapi yang diceritakan Petrus padaku justru sebaliknya: tidak ada orang terpilih. Kita semua orang terpilih, kalau kita tidak mempertanyakan “Apa sebenarnya yang kulakukan di sini?” Kalau kita memutuskan melakukan aktivitas yang memenuhi hati kita dengan kegembiraan. Bekerja dengan penuh antusias, cinta yang mengubah, pilihan yang menuntun kita kepada Tuhan, di sanalah kita akan menemukan gerbang menuju Surga.

Dan antusiasme inilah yang menghubungkan kita dengan Roh Kudus, bukan ratusan dan ribuan bacaan dari kitab-kitab kuno. Keinginan untuk percaya bahwa hidup ini adalah keajaiban yang memicu rangkaian keajaiban lain, bukannya “ritual-ritual rahasia”, atau “kelompok-kelompok tertentu”. Singkatnya, manusia memutuskan sendiri untuk mengikuti takdirnya, itulah yang menunjukkan ke”manusia”annya, bukan teori-teori yang dikembangkannya seputar misteri eksistensi.

Dan di sinilah aku. Setengah perjalanan lebih sedikit menuju Santiago de Compostela. Kalau segalanya sesederhana yang dikatakan Petrus, lalu untuk apa semua petualangan tak berguna ini?

(bersambung minggu depan)


 
     
 
Beri Tanggapan
Baca Tanggapan
   
 
     
Visitor Number : 14,159,553
Tentang KamiMembership | FAQ | Hubungi Kami
Site MapTerm of Services | Disclaimer
Copyright © 2003 - PT Gramedia Pustaka Utama