Full Text Search via Google
KEYWORD
 
Sabtu, 31 Juli 2010 Nonfiksi Fiksi dan Sastra Buku Anak-Anak Teens Buku Masak Halaman Utama
Pengarang Bestseller New Release Coming Soon Recommended Edutivity Member Registrasi
 
Tentang Penulis
  M. Fadjroel Rachman

 
   
 
   
  DETAIL BUKU
Sejarah Lari Tergesa
Harga : Rp ,- *
Ukuran : 22 x 17 cm
Tebal : 0 halaman
Terbit : Agustus 2004
Soft Cover
Pesan Sekarang
       
*)Semua pemesanan online akan dilayani oleh situs GramediaShop.com sebagai situs resmi milik divisi Direct Marketing Kelompok Penerbitan Kompas Gramedia.
 
*)harga dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Fadjroel Rachman menuliskan biografi negeri (manusia) yang kacau, kelam, sesak, menikam, dan menyayat-nyayat, yang menyeretnya ke dalam lubuk sajak yang bergegas, berlarian di antara kusut, riuh, letih, dan perih dunia (peradaban). Membaca Sejarah Lari Tergesa adalah melihat wajah sendiri yang menggigil dan perih dalam cermin telanjang. Menggerayangi tubuh sendiri yang gemetar di antara nafas yang tak lepas. Alangkah sakit berpayah-payah mengenali manusia dalam biografi yang berlarian itu. Namun, alangkah menakjubkan! Saya menikmati perjalanan yang melelahkan dan menakutkan itu di sepanjang sajak dalam buku ini. Sebab, pada setiap lekuk dan ceruknya, saya seperti menyelinap dan mengambil tempat, dan tak mudah untuk beranjak keluar.
Dorothea Rosa Herliany

Membaca Sejarah Lari Tergesa ibarat membaca Fadjrul lewat sisi lainnya. Tidak sarat dengan buku-buku referensi, tapi justru menjadi sangat humanis: lirih, letih, bukan sentimental. Tidak kenal berbau "kiri" (atapun "kiri tengah") tapi tetap tajam dan sinis. Fadjrul mencoba menyentakkan kita bahwa masih banyak pekerjaan rumah yang menanti untuk diwujudkan: melalui rumah Indonesia Baru, melalui masyarakatnya yang lebih madani.
Ira Koesno

Apa pun bentuknya, kesusastraan bisa menahan seorang pejuang dari kemungkinan menjadi pahlawan, setelah penjara, institusi yang sia-sia itu, menganiayanya. Karena kesusastraan bukan sabda seorang yang menjadi agung setelah melewati masa pertapaan, melainkan sebuah proses yang mengakui kebutuhan untuk sama-sama menemukan sejumlah makna, dan dengan demikian saling berbicara.
Goenawan Mohamad

Saya mendukung angkatan muda yang menulis. Tapi saya sudah sulit membacanya, apalagi membaca puisi.
Pramoedya Ananta Toer
ISBN : 979-22-0985-9; 20104019

Kategori:
  • Fiksi dan Sastra/Bacaan Sastra dan Puisi
Kirim ke teman
Print Artikel
Kembali ke atas
   
Buku Terkait
 
 
 
Visitor Number : 14,159,076
Tentang KamiMembership | FAQ | Hubungi Kami
Site MapTerm of Services | Disclaimer
Copyright © 2003 - PT Gramedia Pustaka Utama